Sajian Berat Ala Suri Untuk Para “Amplifier Worshipper”

Menggelagar , berat, dan tanpa kompromi, itulah deskripsi singkat tentang band Stoner ibu kota Suri. Tiga kata ini terbesik pada pikiran saya setelah pada 27 April lalu mereka tampil live disalah satu distro di kota Yogyakarta. Kali ini Suri datang untuk ketiga kalinya dengan materi yang lebih banyak dari sebelumnya. Sebut saja munculnya debut full album mereka Mothology yang di rilis pada 2012 lalu, kunjungan ke Jogja ini bisa dibilang sebagai rangkaian promo album ini. Berbicara tentang rilisan tak sedikit pula Suri menelurkan proyek split, seperti contohnya split Suri dengan band Serigala Jahanam yang dirilis net label Yes No Wave yang tentu saja bisa didownload secara gratis. Begitu juga three way split Suri dengan Jelaga dan Sigmun yang dikemas kedalam sebuah vinyl. Menanggapi hal ini tercapai kesimpulan dimana Suri adalah salah satu band padat karya saat ini.

Band Suri sendiri beranggotakan Rito pada vocal dan gitar, Gandung pada bass, dan Didit pada drum. Walaupun hanya tiga orang musik Suri terdengar tebal dan enerjik.Terlihat penonton mengayunkan kepala mereka sejalan dengan tempo lagu yang dimainkan, sembari menikmati huntaian melodi Rito sang gitaris. Sungguh atmosfer penonton yang sangat berbeda sekali dengan kebanyakan band bertempo cepat.Tak lupa juga permainan riffing gitar yang menjadi eargasm tersendiri bagi para amplifier worshipper kota Yogya. Bagaimana tidak, venue outdoor dibuat Suri menjadi riuh dengan disiplin sound ber tune rendah dan dengan jelas mampu membius penonton yang hadir kala itu.

Sebelum Suri naik panggung saya berkesempatan untuk mewawancarai mereka ditemani oleh Hilman Fathoni dari webzine Alphabeta Journal. Adapun pertanyaan saya merajuk pada konsep downtempo yang disajikan secara apik ala Suri dan kaitannya dengan tema luar angkasa yang diasung pada album Mothology. Sungguh jawaban cukup yang menarik dilontarkan oleh Rito. Dia menyatakan kalau diluar angkasa semua benda menjadi lambat; “Kalian tidak bisa lari marathon di luar angkasa”, kata Rito. Sehingga relasi musik downtempo dan luar angkasa ternyata cukup dekat kaitannya. Oleh Hilman yang sepertinya sudah cukup hafal dengan musik Suri kembali mengeksplore arah pembicaraan ke lirik-lirik yang disajikan Suri. Sempet tersebut kosa kata seperti “astral trip” dimana musik Suri menjadi media manusia untuk pengalaman astral.Wah topic yang cukup berat bagi saya, tetapi terlihat Suri menguasai konsep yang mereka tawarkan. Bukti keseriusan mereka akan pentingnya sebuah konsep album. Selain itu terjadi pembicaraan tentang proses kreatif musik Suri sehingga bisa berjalan seperti saat ini. Dimana sesi jamming di studio menjadi hal penting dalam proses penciptaan lagu. Kebanyakan musik Suri memang dibuat secara spontan di studio, tentu saja dengan brainstorming yang dilakukan terlebih dahulu. “Kalau brainstorming lewat grup BB aja bisa”, kata Gandung yang sekalian membeli Vinyl dari Hilman. Entah vinyl apa itu tapi rasanya cukup rare. Wow.

Diakhir sesi wawancara Hilman menutup dengan pertanyaan seputar playlist terakhir masing-masing anggota Suri. Dari Rito yang sedang santai menikmati alunan musik dari Nick Drake, dilanjutkan Gandung yang sempat mengakui akhir-akhir ini mendengarkan musik bertempo cepat, memilih single kolaborasi Nick Cave dan Kylie Minogue sebagai playlistnya. Sementara Didit memilih Ahmad Band dengan judul lagu Bidadari Kesunyian menjadi playlist favorit akhir-akhir ini dan diikuti sontak canda antara anggota band Suri dengan kami, seakan tak percaya bahwa orang – orang dibalik musik sangar dan berat ala Suri ternyata memiliki input dari berbagai jenis musik yang berbeda.

Text by: Dimas Dhyara | Photos by: Randy Surya

(Visited 150 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment