Sedikit Menengok Kembali Konser Musik Terbaik Di 2013

kolase

 

Menuliskan ulasan konser terbaik di tahun 2013 di tahun 2014, mungkin tidak lagi menarik untuk dibahas. Tapi ketika menengok kembali kemeriahan konser yang terjadi di 2013, tentu tidak bisa begitu saja dilupakan. Apalagi bagi orang yang mengalami langsung atmosfir serta hiruk pikuk orang-orang dan bebunyian bising distorsi gitar yang memekakkan telinga, hingga suara parau dari hasil sing along bareng sang musisi idola. Bagaimana rasanya berjarak begitu dekat dengan sang idola yang biasanya hanya ada dalam bentuk suara dan lagu yang setiap hari didengar, menemani berbagai macam perasaan yang bisa diwakili oleh lagunya.

Dari mulai ‘British Invasion’ yang membuat lapangan D Senayan menjadi sah sebagai tempat ‘naik haji’ bagi para penggemar para musisi Inggris (jika harus dikatakan seperti itu), bagaimana meriahnya konser super band sekelas Metallica, sampai grup musik dari dalam negeri Semak Belukar yang menggelar mini konser perpisahan mereka di tahun 2013 kemarin.

Mengurutkan tiga konser terbaik musisi luar dan dalam negeri yang menggelar konser, ataupun mini konser di tahun 2013 kemarin, maka inilah daftarnya :

Blur

Blur? Kenapa harus Blur yang harus dimasukan ke dalam jajaran konser musik terbaik? Apa hebatnya Blur? Mereka tampak biasa saja. Satu celotehan yang mungkin dilontarkan oleh penggemar grup musik Oasis, jika saja nama Blur ini saya masukan sebagai salah satu konser musik terbaik pada tahun 90an dulu, ketika Blur dan Oasis masih saling adu argumen untuk saling menjatuhkan pada dekade itu. Tapi sekarang, ketika Noel dan Damon telah duduk satu meja dan ngebir bareng, semua perseteruan itu sudah berkahir, dan dua kubu grup musik raksasa Inggris itupun sudah berbaur.

Itu pulalah yang terjadi pada konser musik Blur di Indoensia pada tahun 2013 kemarin. Penantian sekian lama menyaksikan konser musik dari raksasa britania raya ini terbayar sudah di tahun kemarin. Blur yang masih saja sama ketika di eranya dulu memainkan lagu yang sama. Blur yang masih saja sama, ketika lagu Song 2 selalu saja bisa membuat kaki ini berjingkrak dalam satu teriakan parau bersama ribuan penggemar lainnya degan teriakan “woohoo”. Blur yang masih saja sama dengan dua ‘dynamic duo’ Damon dan Graham yang sempat marahan di album think thank, namun kembali rujuk setelahnya. Kembali untuk memberitahukan kepada dunia khususnya Indonesia, dan kepada siapapun yang nonton konser mereka di gelaran Big Sound Festival 2013 kemarin, jika Damon, Graham, Alex, dan Dave masih ada dan sanggup urakan dengan musiknya.

Morrissey

Rasanya tidak mungkin jika nama ini tidak dimasukan dalam daftar. Namanya ada sebagai garda terdepan dari genre musik yang diusungnya, berhadapan langsung dengan musik aternative 90an di Amerika dengan Kurt Cobain sebagai orang yang dikultuskan mewakili eranya. Morrissey adalah apa yang bisa diharapkan dari penulis lirik terbaik yang pernah tanah britania raya lahirkan. Banyak orang yang tumbuh dengan musiknya, dengan lirik yang dinyanyikannya yang terus menerus nempel di telinga mewakili setiap perasaan yang dibawa lagunya.

Pada konser Morrissey kala itu memberikan pemandangan sekitar yang berubah sureal sekaligus spiritual secara bersamaan. Mereka yang berpelukan dan menangis tersedu-sedu ditingkahi teriakan-teriakan yang mendadak datang mengepung dari berbagai arah, menenggelamkan suara Morrissey-nya sendiri. Dan mungkin benar apa yang dikatakan Wendy Putranto dari Rollingstone Indonesia jika hanya di konser Morrissey saja semua penggemar musik lintas genre; indie pop, hardcore, punk, metalheads, gothic, grunge hingga ska bisa terlibat galau massal dalam buaian liriknya, sesaat akrab berpelukan, berpegangan tangan, berdansa sembarangan, bernyanyi dengan mata berkaca-kaca saat sihir Morrissey tengah bekerja. Oh well, to die by your side is such a heavenly way to die Moz.

Metallica

Dua puluh tahun yang lalu, usai mereka menuliskan sejarah konser musik terbesar di Indonesia, akhirnya mereka tampil lagi menggelar konsernya disini. Euforia konser Metallica ini bahkan sudah terasa sebelum Metallica sendiri tampil disini. Dari mulai perbincangan di media sosial sampai inisiatif membuat tagar #demimetallica dari pengguna social media (twiter) yang rela menjual barang berharga miliknya untuk ditukar dengan tiket konser Metallica. Suatu bentuk semangat dari sebuah kerinduan menyaksikan sebuah konser besar dari band sekaliber Metallica.

Dengan antusias yang begitu besar dari para penggemarnya, maka tak heran pada hari H konser Metallica tersebut menyuguhkan pemandangan lautan manusia berbaju hitam, yang berjingkrak bersama mengikuti hentakan drum Lars Ulrich, yang masih bermain begitu aktraktif di usianya yang sudah tidak lagi muda. Semua orang ada dalam satu keriaan yang sama berbaur dengan bisingnya bunyi distorsi gitar dan atmosfir yang membuat siapapun yang mengenangnya di hari ini, masih bisa merasakan bagaimana sangarnya musik yang dibawakan Metallica. Bagaimana ketika keringat yang mengucur menandai sebuah kepuasan menyaksikan konser musik terbesar di tahun 2013 kemarin. Metallica adalah raksasa yang dengan musiknya selalu bisa membuat penggemarnya tidak pernah terlalu tua untuk musiknya.

Pure Saturday

Merayakan usianya yang ke 19 tahun, PS (Pure Saturday) menggelar konsernya di Bandung. Sebuah konser yang menyuguhkan barisan lagu-lagu hits PS dari mulai band ini berdiri sampai saat ini. Menjadi menarik untuk bisa dimasukan dalam daftar konser musik terbaik 2013, adalah karena Pure Saturday sendiri yang bisa dibilang pionir dari pergerakan scene indie lokal ini, sampai hari ini masih berdiri dengan semangat yang sama. Tidak banyak band seumuran PS yang masih bisa bertahan sampai usia 19 tahun seperti itu.

Seperti biasaya PS selalu saja bisa menghadirkan koor masal dari lagu-lagu yang dibawakannya. Pembawaan Iyo sang vokalis yang begitu luwes membawa penonton untuk tak membuat jarak antara penonton dengan bandnya. Suasana keakraban dari para personil PS, suguhan gambar perjalanan PS, sampai cerita menarik dibalik gambar itu yang diceritakan beberapa teman dekat, dari mulai sejarah gudang coklat sampai proses recording album PS terbaru, yang dimana didalamnya menyuguhkan eksplorasi yang lumayan besar dari musik PS. Keseluruhan dari konsernya adalah PS yang selalu saja sama, selalu hangat, akrab, dan tak membuat jarak dengan penontonnya. Sampai pada lagu terakhir yang dinyanyikan PS, penonton masih saja bernyanyi “coba untuk ulangi, apa yang terjadi”.

Pandai Besi

Berbicara Pandai Besi berarti berbicara tentang Efek Rumah Kaca. Suatu grup musik yang terlahir dari hasil menyadur dan menyuguhkan kembali lagu-lagu yang pernah dipopulerkan Efek Rumah Kaca, untuk kemudian diadaptasi menjadi lagu dengan bentuk lain. Warna – warni intrepetasi di setiap lagunya itu membuat konser ini menjadi menarik. Musik yang terasa megah dan matang, menjadi andalan dari Pandai Besi.

Konser dibuka oleh Efek Rumah Kaca dengan format tiga orang, untuk kemudian diteruskan oleh Pandai Besi. Dari mulai musik sampai barisan suara latarnya, semua bersinergi memberikan tontonan suatu konser musik yang komplit, memenuhi ekspektasi sebuah intrepetasi yang baik pada lagu yang sebelumnya pernah didengar. Daya tarik lagu-lagu Efek rumah kaca tidak lantas hilang begitu dinyanyikan oleh Pandai Besi ini. Keduanya bisa membawa warna tersendiri yang sama bagusnya.

Semak Belukar

Jika saja bukan nama Semak Belukar yang menggelar mini konser ini, maka mini konser ini akan terlihat biasa saja. Bagaimana tidak biasa, konser yang hanya dihadiri sedikit orang dan digelar di tempat yang tidak terlalu besar ini mana mungkin bisa dikatakan konser terbaik di tahun 2013 kemarin? Apalagi mengingat musik yang diusungnya adalah musik melayu yang terlanjur dilabeli kampungan, yang ‘sayangnya’ justru dilabeli oleh para jurnalis musik itu sendiri.

Saya mungkin salah satu dari beberapa orang yang harus menjilat ludah sendiri atas stigma terhadap musik melayu yang saya cibir habis-habisan itu. Semak Belukar menampar saya dengan keindahan musiknya dan syair lagu berima berirama yang syarat akan makna dengan nilai sastra yang membuat Kahlil Gibran terlihat begitu dangkal dengan keagungan picisannya. Sebuah grup musik yang pada hari itu menggelar konser terakhirnya, yang justru ketika namanya mulai banyak diperbincangkan. Musiknya memenuhi ekspektasi banyak orang, ketika mereka dengan hebatnya mengintrepetasikan budaya lokal bisa tersaji dengan begitu indah.

Konser ini membuai penonton dengan irama melayu yang mereka bawakan, sampai pada klimaks menghancurkan alat musik yang mereka mainkan, sebagai tanda selesainya mereka bermusik di Semak Belukar. Aksi menghancurkan alat musik seperti itu mungkin sebelumnya sering dilakukan oleh beberapa musisi dunia seperti Nirvana, Jimi Hendrix, bahkan sampai Koil. Namun yang membuat ini begitu bermakna dan mengharukan adalah karena alasan Semak Belukat untuk mengambil keputusan mengakkhiri karir mereka di musik, karena alasan personal para personilnya. Seperti dengan apa yang ditulis oleh Koran Tempo, jika mereka lebih memilih sekali berarti, sesudah itu mati.(AWP)

(Visited 432 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

1 Comment

Submit a Comment