Silampukau: Dosa, Kota & Kenangan Surabaya

dosa-kota-kenangan1

Review oleh: Aripp Kusuma

Silampukau, nama grup musik yang unik ini ternyata berasal dari bahasa melayu kuno berarti burung kepodang. Tampil dalam  acara gigs komunal, jauh-jauh datang dari Surabaya dan naik panggung di deretan awal saat gelaran Indonesian Netaudio Festival #2 di Bandung beberapa waktu yang lalu, namun seperti membawa magnet tersendiri ketika membawakan beberapa lagunya yang tematik khas kota asalnya Surabaya.

Selang beberapa bulan, layaknya bola salju, band ini semakin besar dibicarakan dalam beberapa kesempatan dan media alternatif. Awal tahun ini dibulan April tepatnya, mereka menelurkan album penuh setelah sebelumnya sempat membuahkan  mini album berjudul “Sementara Ini” di tahun 2009 silam. Album yang dikerjakan secara home recording  di Surabaya dan Malang ini membutuhkan waktu hampir 6 tahun untuk dapat menemukan materi-materi baru sebagi bahan  menyajikan album penuh. Penuh dengan suasana kota (Surabaya), penuh kenangan dan penuh “ pengakuan dosa”.  Proses panjang yang dilalui oleh masing-masing personelnya membuahkan hasil di album yang dirilis dalam versi CD dan itunes. 10 lagu yang kaya makna dan nada siap tersaji menjadi ciri tersendiri bagi musisi Surabaya asli ini.

Dalam tulisan di official website mereka: www.silampukau.com, menyatakan bahwa  album penuh pertama bagi setiap musisi adalah sebuah pertaruhan. Bagai sekeping koin, ia bisa bermakna ganda: menjadi batu tapak untuk melangkah ke panggung berikutnya atau justru menjadi batu nisan yang hanya berfungsi sebagai penambat ingatan. Seperti itu pula arti album Dosa, Kota, & Kenangan bagi Silampukau.

  1. Balada Harian

Seperti mengisahkan rutinitas harian yang tidak bisa terhindar saat beberapa keinginan dan cita belum juga tercapai. Tik-tok simbol waktu mengiringi hari yang panjang menjadi pengharapan bagi sebagian orang untuk terus bersemi dan berseri. Dan waktu yang beredar tidak hanya sekedar hitungan yang melingkar. Kota tumbuh kian asing, kian tak peduli, menjelaskan perjalanan kehidupan yang terus berubah tak mempedulikan siapa dan darimana kita. Maka dari itu, tujuan dan harapan harus menjadi satu angan yang terus dicitakan dalam setiap balada harian.

  1. Si Pelanggan

Denting piano yang berada di intro menegaskan bahwa lagu ini menjadi semacam lirik bercerita. Bahwa Dolly pernah menyala, bersembunyi di setiap sudut jalang jiwa pria Surabaya. Tempat mentari sengaja ditunda! Dimana cinta tak musti merana dan banyak biaya. Dolly! Pernah tenar karena menjadi tempat terbesar se Asia Tenggara, namun Dolly! Juga pernah gempar saat penutupan yang dilakukan oleh sang walikota. Sebuah kenangan dalam bentuk nyanyian.

  1. Puan kelana

Penggunaan diksi kata lama dalam judul ini menjadi semacam cover yang membuat penasaran akan isi lagunya. Beberapa kata membuat sedikit berfikir, kisah apa yang sedang dilagukan. Puan kelana pergi kemana… langit sungguh jingga itu sore… kita tak pernah suka air mata..berangkatlah sendiri ke Juanda. Tiap kali langit meremang jingga, aku kan merindukanmu..

Bahwa jarak sebenarnya bukanlah halangan, karena perpisahan dan pertemuan tercipta karena rasa. Paris ataupun Surabaya..entah merlot entah cap orang tua. Semua sama.  Meski senja tak selalu tampak jingga. Aku terus merindukanmu…

  1. Bola raya

Kenyataan sederhana yang sebenarnya menjadi satu dari sekian dampak luas dari berkembangnya kota. Bola tidak lagi mendapat jatah untuk dimainkan hingga tumpah ke jalan raya yang menimbulkan masalah. Beralaskan aspal bergawang sandal, rindu tanah lapang yang hijau. “Kami hanya main bola, tak pernah ganggu gedungmu”, Sebuah representasi kegelisahan anak-anak yang tidak lagi mempunyai tempat di arena kota. Kritik sosial saat bermain bola sudah beralih di lapangan sintetis dalam sebuah tempat bertudung.

  1. Bianglala

Taman remaja Surabaya sajikan canda.

Disanalah hiburan murah di surabaya. Tempat muda-mudi berduaan di remang-remang.

Inilah representatif kota Surabaya, dengan segala gemerlap dan riuh rendahnya.

  1. Lagu rantau (sambat omah)

Judul lagu tersebut sudah menegaskan apa isi lagu tersebut.

Kota kelewat kejam, pekerjaan menyita harapan.

Oh demi Tuhan atau  demi Setan..sumpah aku  ingin rumah. Untuk pulang.

Sebuah keluhan bagi sang perantau yang tidak selalu menemukan kesuksesan di tanah harapannya. Rindu kampung halaman.. Nada yang cathcy untuk dinyanyikan bersama dengan sesama teman rantau.

  1. Doa 1

Masih ada keluhan lain, kali ini dari golongan musisi. Bagaiman proses bertahan hingga harus memilih apakah benar-benar dijalani atau banting setir.

Bimbang..karena semakin terteror televisi.

Semoga mama belum tua saat aku mencapainya…amin.

Harapan sang musisi untuk menyatakan diri namun waktu belum yakin bisa mengamini.

Semoga terkenal, terpandang dan banyak uang..agar bisa mengunjungi tanah suci.

Menjadi harapan pada setiap orang atas jerih payah yang menjadi satu pilihan tanpa ada rasa goyah. 

  1. Malam jatuh di Surabaya

Pesimis! Menjadi kesimpulan untuk deretan  paragraf  pertama lirik lagu ini.

Tuhan kalah di riuh jalan. Orkes jahanam  mesin dan umpatan, malam jatuh di Surabaya.

Bahkan  sang Tuhan  pun akhirnya kalah… saat malam jatuh di Surabaya.

  1. Sang Juragan

Siulan dibagian awal.. menjadi penanda pelanggan..Hidup keras..jual miras..anggur vodka..arak beras..dijamin anti potas.

Menyindir sang pemakai seragam yang terkadang datang pasang tampang seram. Sedikit bangkrut namun yang penting jualan tetap lanjut. Terkadang datang wajah terpinggirkan, muka kusut ingin membeli minuman.

Hidup tambah keras,.. saat naiknya harga minuman keras.

  1. Aku duduk menanti

Track penutup ini menjadi semacam lagu bagi orang yang sedang menunggu ke tahap selanjutnya setelah takdir-takdir dalam kehidupan telah banyak dialami.

(Visited 2,800 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

2 Comments

  1. Apa kata kaum muda tentang kota? Lirik-lirik lagu ciptaannya mungkin dapat memberi petunjuk bagaimana Surabaya bertemu dan berbincang dengan kaum muda.

Submit a Comment