Single Kedua Dari The Triangle, Last Days

The Triangle - Last Days Artwork

Mereka yang duduk terdiam dalam perenungan dan dialog tanpa kata, mencoba memaknai dan memeluk peristiwa yang sedang berlangsung sebagai penanda suatu akhir yang kelak membuka awalan kisah dan petualangan yang baru masing-masing. Bernarasi dalam musik atas suatu perpisahan yang menyakitkan dan pergulatan diri untuk memahami bahwa peristiwa yang sedang berlangsung adalah hari-hari terkahir dari suatu rangkaian peristiwa, seperti salju yang lenyap karena semburat matahari pagi, bukan berarti berakhirnya suatu parade musim dingin namun juga untuk menerima makna terang.

Musik Last Days berkesan kelam namun megah, menghadirkan warna emosi berbeda dalam satu lagu, memberikan pancaran keanggunan yang dalam dengan tekanan dan beberapa pengulangan khas untuk mempertegas penyampaian lagu, memang betul rupanya masing-masing personil dari The Triangle membawa karakternya masing-masing beserta seluruh ide dan kreativitas untuk kemudian memampatkannya dalam suatu tubuh The Triangle yang “Masculine, Sophisticated, Grande, Technical and Melodius” dalam musik-musiknya.

Last Days secara tersirat bercerita tentang kisah cinta yang harus terhenti dan patah hati yang diakibatkannya, lirik yang meninjam tanda alam seperti salju yang mencair karena semburat matahari dan komposisi musik yang sedikit banyak terdengar pengaruh musik-musik tahun 90an ditambah pembawaan khas tiap-tiap personil, mampu menggambarkan keadaan mengalienisasi diri secara paksa untuk mengambil jarak atas suatu peristiwa yang telah melalui proses toleransi dan penerimaan dengan caranya yang elegan.

Cerita menuju “Last Days” tersebut adalah kontemplasi dan proses tanpa henti dari kumpulan individu yang menamakan diri The Triangle yang awalnya justru dibentuk sebagai band trio dengan format akustik. Seiring waktu berjalan, kebutuhan lagu membawa The Triangle pada keputusan untuk merombak format yang pada awalnya beranggotakan Riko Prayitno (bass), Cil (gitar dan vokal), dan Fikri (gitaris) untuk kemudian dibantu oleh Koi (drum) yang kini telah menjadi personil tetap dan beberapa additional player yaitu Agung (keyboard), Tommy (trumpet), dan Dian (trombone). Formasi lengkap inilah yang membawa musik indie rock ala The Triangle yang kemudian melahirkan album “The Traingle: The Triangle Album” dengan single pertama mereka “How Could You” yang dipilih sebagai salah satu origininal soundtrack pengisi film “Perahu Kertas” besutan sutradara Hanung Bramantyo yang diangkat dari Novel karya Dewi Lestari. Tidak hanya berhenti disitu The Triangle juga telah merilis video lagu “One Side Affair” dengan tenik sebar QR-Code. Tentu saja tulisan ini selayaknya ditutup dengan ucapan selamat menikmati dan memaknai “Last Days” dari The Triangle.

(Visited 141 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment