“SORE” Hari di Kota Malang

IMG_20140501_141253

Tuhan mungkin menciptakan sore sambil tersenyum. Siapa yang tak suka sore? Saya rasa siapapun pasti menikmati momen dimana matahari sedang amoy-amoynya, semburat cahaya keemasan menerobos rimbun dedaunan, bumi bermandi kehangatan, lalu aneka warna silih berganti muncul di langit. Dalam dunia fotografi itu disebut golden hour (atau bisa juga disebut magic hour) yaitu kondisi pencahayaan outdoor di rentang waktu setengah 5 sore sampai setengah 7 malam.

Tanggal 27 April 2014, amphitheater pinggir danau Lembah Dieng disulap menjadi venue romantis untuk acara musik bertajuk Sore Hari di Malang. Saat saya tiba di venue, sudah ada Christabel Annora dengan dentingan piano di lagu terakhirnya. Sebelumnya, Hoody Woody Freaky sudah lebih dulu memanaskan panggung. Sekitar pukul 08.20 Crimson Diary naik ke panggung membawakan empat lagu yang saya duga adalah materi di album baru mereka. Salah satu lagunya cukup familiar dan sudah sering dimainkan. Musiknya misterius dan seksi. Mereka seksi dengan gayanya sendiri, menggoda hasrat ingin tau lebih banyak dan membuat rilisan mereka layak untuk dikoleksi.

Pukul 09.00 The Morning After naik panggung. Kali ini tampil sedikit berbeda dengan personel magang  Cak Iksan Skuter di bagian melody. Wah! Seperti janji mereka, The Morning after tampil full set. Kali ini mereka menawarkan nuansa baru pada musiknya. Ada sedikit bumbu blues meski tetap kental dengan nada-nada rock dan efek-efek gitar serta suara khas Bambang Iswanto yang bebal memenuhi ruang. Awalnya saya sedikit kecewa karena tidak satupun lagu dari album Another Day Like Today yang mereka bawakan sehingga tidak bisa ikut sing a long. Namun kekecewaan saya terobati karena materi baru mereka sangat-sangat emejing. Tidak sabar untuk mendengarkan full albumnya, saya harus punya!

Ingin rasanya meminta waktu The Morning After lebih lama, berharap mereka berbaik hati membawakan lagu “Everyday Starts at Midnight” ataupun “Stay for A While”. Namun mereka benar-benar hanya membawakan empat lagu: Takluk, Kemarau, Jelajah dan satu cover dari The Flaming Lips. Untuk lagu koveran, megahnya serupa versi asli. Memikat!

Semakin malam, penonton pun tak sabar menanti Sore. Stage crew memerlukan waktu cukup lama untuk mengatur segala macam perbunyian, membuat MC harus piawai mengulur waktu agar penonton tak hengkang dari arena. Penonton harus duduk manis harap-harap cemas sekitar 45 – 50 menit dan itu merupakan penantian lama. Namun ketika Ade Firza Paloh, Awan Garnida, Bemby Gusti, dan Reza Dwiputranto plus Sigit Agung Pramudita (vokal dan gitaris Tigapagi) muncul ke panggung, penonton pun hilang kendali dan bergegas bangkit dari duduk. Awan mengajak semuanya merapat ke panggung dan berdendang bersama. Sapaan hangat dari Sore mengawali penampilan mereka Kemudian “No Fruits for Today” pun mengalun. Penonton bersama-sama berdendang dan menyerukan “I love you when you love me, and we’re gonna make a big family…”  ah saya pun mengamini dengan sangat. Anggaplah ini doa.

Lalu lagu-lagu lain dari album Sorealist pun dimainkan beruntun: Merintih Perih – Setengah Lima – Etalase  – Somos Libres – Lihat  – Karolina  – Apatis Ria. Syukurlah wishlist saya terwujudkan juga dan menariknya, di tengah-tengah lagu muncul sesosok turunan adam meliuk lincah nan gemulai. Spontan, personel Sore menirukan gerakan penari tersebut dan penonton serentak terbahak. Akhirnya Sore menutup perjumpaan dengan salah satu single yang dibebas-dengarkan satu tahun lalu: Sssssst! Berbahagialah semua harapan yang tidak sekedar harapan. Dan kadang, usai bukan berarti pisah. Karena masih ada encore Funk The Hole sebagai jabat erat terakhir sebelum lambaian.(Tn)

 

 

 

 

(Visited 135 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment