Media Sosial yang Kian Njelimet

social-media-logos_15773

Sejak galaksi Bima Sakti mengamini lahirnya dunia cyber, perangkat selular bergelar ‘ponsel pintar’ lihai menyusup bahkan sampai ke gang-gang rumah paling sempit, media cetak ramai bertransformasi menjadi dotcom, dot info dan dot sebagainya. Toko imajiner yang tadinya hanya ada di angan, muncul dengan wujud online shop. Terjadilah transaksi jual beli lintas pulau yang berlangsung dalam hitungan menit. Televisi mulai kehilangan porsi, berganti kanal YouTube yang lebih variatif. Kotak pos kosong melompong tergeser oleh email dan chatting.

Lalu tahun berganti, tamat sudah riwayat MIRC. Bulan berganti, Friendster nyaris mati, Facebook hampir ambruk. Kemudian sosial media yang diberi nama Twitter datang bagai pelita dalam kegelapan. Semua berlomba membuat satu akun (bahkan lebih) demi mendapatkan username yang unik. Tak ngetweet maka tak gaul! Mengelola sosial media korporat tertentu kini menjadi mata pencaharian baru. Bahkan presiden dan segenap staff pemerintahan pun ngeksis di Twitter, foto gagah mereka memenuhi layar ponsel. Meski dibatasi hanya 140 karakter, tak lantas membuat pecandunya kehabisan ide. Pujangga karbitan bertebaran, sementara itu aktivitas sehari-hari yang dulunya privat kini menjadi konsumsi banyak orang.

Belakangan ini, linimasa saya dipenuhi berita yang berganti topik dengan cepat. Mulai dari tercorengnya nama baik salah satu sastrawan Indonesia yang terkenal maha romantis nan erotis karena perilaku amoralnya, lantas meninggalnya bule ganteng doyan ngebut bermata biru, pekan kondomisasi, hingga baru-baru ini pengunduran diri seorang menteri ganteng yang suka musik itu. Riuh. Semua adalah injeksi mindset. Berita-berita setengah matang diolah dengan bumbu drama dan tendensi. Para pemuka Twitter (yang selanjutnya kita sebut saja selebtweet) melontarkan opini, disambut oleh fans, dicerca oleh haters kemudian yang bingung entah kemana haluan, ikut saja meramaikan. Twitter serupa sirkuit, tempat di mana sekian akun melaju cepat dengan kicauannya sendiri-sendiri, berusaha menjadi yang paling trendi dan paling bijak. Sejumlah orang memang sudah terlalu lelah mencari kebenaran dan akhirnya ikut saja mana pihak yang dominan. Salah satunya adalah saya, dan mungkin kamu yang sedang membaca.

Mengutip salah satu tweet @arman_dhani “Masih ingat ketika twitter hanya tentang berjejaring, mencari kawan dan berbagi ilmu? Bukan tentang mengendalikan isu, bertikai dan fitnah?”Mungkin sudah saatnya kita letakkan sejenak perangkat canggih berbandrol sekian juta yang ditenteng kemana-mana itu. Sebentar saja, mari kembali menjejak dunia nyata, menikmati bau hujan sambil berbincang bersama karib dan kopi sebagai pelengkap. Kita perlu belajar masa bodoh pada’centang-centung’ notifikasi. Jangan sampai sosmed yang kian njlimet menjadi agama baru dan kita termasuk salah satu umat yang paling taat.  Semoga saja, bukan. (TND)

(Visited 62 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment