Sound of Ska #5: Pestanya Penggemar Ska Jogja!

Shaggy Dog (1)

Foto: Yudha Baskoro

Malam-malam di Jogja yang beberapa hari terakhir ini sedang dingin dibuat menjadi sedikit hangat pada Sabtu malam, 1 Agustus 2015 oleh sebuah acara bertajuk Sound of Ska. Acara ini telah mencapai gelaran yang kelima sejak diadakan pertama kali pada tahun 1998. Bukan hanya bersuka ria lewat alunan musik ska yang gegap gempita, Sound of Ska turut melakukan aksi sosial dengan menyumbangkan sebagian hasil dari acara tersebut untuk sebuah organisasi pecinta hewan, Animal Friends Jogja.

Acara dimulai sekitar pukul setengah 8 dan dibuka oleh penampilan dari Social Hitam Putih. Lewat lagu-lagu ska yang enerjik bertema cinta, mereka boleh dikatakan berhasil membuka pertunjukan, karena beberapa penonton yang jumlahnya belum terlalu banyak itu sempat melakukan tarian-tarian khas ska dengan lagu-lagu yang mereka bawakan. Penampilan dari the Mobster, dedengkot ska dari Semarang, lanjut memanaskan panggung Sound of Ska #5 malam itu. Sang vokalis kerap mengacungkan mikrofonnya ke arah penonton, bahkan ada yang sempat mengambil mikrofon itu dan seolah menggantikan posisi sang vokalis di band. Meski ia melakukannya dibalik barikade besi yang telah didirikan di depan panggung.

Kemudian, giliran Black Sky yang mengokupasi panggung, kelihatannya band ini sudah relatif lama terbentuk, kelakar-kelakar seputaran umur yang dicelotehkan pembawa acara membuat mereka tersenyum malu. Namun, ketika dipersilahkan memainkan lagu pertamanya, mereka langsung mengejutkan penonton dengan gebukan drum yang keras dan cepat bergaya hardcore. Suara dari trio alat tiup (terompet, saxofon, dan trombone) selanjutnya menyambut gebukan-gebukan itu dan memberikan unsur khas ska pada lagu yang dibawakan.

The Ska Banton dari Surabaya tak mau kalah dari penampil sebelumnya yang sempat berhasil membuat mosh-pit di tengah kerumunan penonton yang telah semakin ramai. Mereka menghibur dengan lagu-lagu berirama naik-turun sehingga membuat penonton tidak bosan. Pun juga memberi kesempatan penonton yang kelelahan mosh pit untuk, katakanlah, turun minum. Entah itu minum air putih atau anggur kolesom yang juga dijajakan di sisi lain area pertunjukan.

Dedengkot ska kota kembang yaitu Noin Bullet selanjutnya semakin memanaskan venue yang sudah mulai sesak penonton malam itu. Mereka membawakan nomor-nomor andalan yang memacu adrenalin penonton lewat lagu-lagu bertempo cepat. Penonton pun meresponnya dengan tanggap, mengangkat penonton yang lain seolah-olah sedang melakukan stage dive. Tidak hanya sekali, dalam penampilan satu band itu saja saya melihat tiga atau empat orang diangkat tinggi.

Apollo 10 yang selanjutnya diberi tugas untuk memeriahkan panggung malam itu membuat pertunjukan semakin seru saja. Area depan panggung semakin sesak oleh penonton. Mungkin band ini merupakan salah satu yang ditunggu-tunggu. Ketika saya sempat ke WC sebentar, begitu tiupan terompet dari Apollo 10 berbunyi, penonton yang tadinya mengantri untuk masuk WC langsung berlari tak ingin ketinggalan penampil dari band itu. “Apollo Ten memang seru, musiknya asyik buat goyang,” ujar salah seorang penonton yang berdiri di samping saya. Dan hal itu memang benar, saya yang dari tadi hanya menyilangkan tangan sambil mengangguk-angguk, mulai berjoget-joget sedikit mengikuti irama musik mereka.

Tampaknya band ini sudah lama tidak tampil di Jogja. Sempat beberapa kali penggemarnya nekat naik ke atas panggung mengambil mikrofon dari vokalisnya dan mengajak penonton yang lain untuk menyanyi. Sang vokalis juga tidak marah melainkan ikut senang lagunya dinyanyikan bersama-sama seluruh hadirin malam itu. Suasana yang menyenangkan dan sungguh tidak berjarak, semua berangkulan dan bersaudara menyanyikan lagu berjudul “Nostalgia” yang mengajak para penonton untuk melupakan sejenak beban hidup dan mensyukuri apa yang telah mereka dapatkan, karena di tengah keluhan tentang kesulitan hidup, pasti lebih banyak orang yang lebih susah daripada mereka.

Semakin malam, dinginnya suasana Jogja semakin tidak terasa karena penampil selanjutnya adalah Shaggy Dog, selaku tuan rumah acara ini. Doggies pun langsung merangsek ke depan tak ingin melewatkan satu lagu pun yang dibawakan oleh Shaggy Dog. Tak hanya lagu-lagu baru, Shaggy Dog pun membawakan lagu-lagu lama andalan mereka seperti Mari Berdansa dan Di Sayidan, yang jelas bersambut sing along dari siapapun yang akrab dengan lagu itu.

Keseruan demi keseruan yang saya terima malam itu membuat waktu seolah-olah berjalan begitu cepat dan tidak terasa. Tibalah kita di penghujung acara. Sentimental Moods yang didapuk menjadi penampil terakhir, menuntaskan pertunjukan malam itu dengan musik ska yang megah dan necis. Bersetelan jas rapih, para personilnya naik ke panggung dengan percaya diri. Kuartet alat musik tiup dari band ini seolah menjadi superstar lewat aksi enerjiknya. Mereka seperti tidak kehabisan energi dari lagu pertama sampai terakhir. Meski tidak menawarkan konsep band “standar” dengan keberadaan seorang vokalis, band ini justru mengajak penontonnya bernyanyi, sehingga menjadi pertunjukan yang kolaboratif. Musisi memainkan komposisi, sementara penontonnya menyanyikan komposisi yang dibawakan musisi itu. Hal ini tidak lepas dari dibawakannya lagu-lagu lama yang mungkin akrab di telinga sebagian besar penonton malam itu, seperti “Sepasang Mata Bola” dan “Oh Siapa Dia”.

Sabtu malam itu, penggemar musik ska Jogja sedang berpesta. Mereka bertemu teman yang sama-sama tertarik dengan musik ska, menari dan menyanyi bersama melalui alunan musik ska. Peluh keringat yang mengucur deras terbayar lunas oleh senyum bahagia selepas acara. Hangat dan akrab menjadi suasana yang disuguhkan malam itu. Tidak hanya menikmati penampil demi penampil, mereka menikmati pula obrolan di sela-sela pertunjukan, saling berpelukan bagi teman yang sudah lama tidak saling berjumpa. Penampil juga tidak sombong dengan mengurung diri di ruang artis, melainkan ikut berjoget bersama penonton ketika tugas mereka di panggung telah usai. Penggemar musik ska Jogja bertemu di Sound of Ska layaknya sedang ada syawalan bagi keluarga ska, meski lebaran telah usai bulan lalu.

 

 

(Visited 379 times, 1 visits today)

Author: Nikolas Nino

Share This Post On

Submit a Comment