Soundrenaline 2016: Tempat Berkumpulnya Ribuan Penggila Musik dari Segala Penjuru Indonesia

DSC_8398

Foto: Komang Adhyatma

Sebuah catatan oleh Editor in Chief KANALTIGAPULUH, Komang Adhyatma saat mendapat kesempatan khusus mengikuti gelaran Soundrenaline 2016 ‘Louder Than Ever’.

Tidak terasa, tahun ini tepatnya pada tangal 3-4 September yang lalu sebuah festival musik terbesar di Indonesia, Soundrenaline telah memasuki usianya yang ke-14 tahun dan digelar di Garuda Wisnu Kencana, Bali. Tahun ini, Soundrenaline terasa banyak perbedaan dibanding tahun-tahun sebelumnya, baik secara konsep maupun konten acara.

Saya berangkat dari Yogyakarta pada hari Sabtu (3/09) pagi menuju bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali dengan membawa berbagai pertanyaan di dalam kepala: Kira-kira seperti apakah Soundrenaline tahun ini, apakah sama saja seperti ketika saya hadir di Soundrenaline 2014 yang lalu di Surabaya? Mungkin rasa penasaran saya akan segera terjawab setelah mendarat di Bali beberapa jam lagi, pikir saya. Kali ini saya tidak sendirian, karena partner saya, Novita Widia juga turut berangkat dari bandara Juanda, Surabaya dan kami akan bertemu di bandara Ngurah Rai, Bali sebelum bersama-sama menuju ke hotel tempat kami menginap bersama rekan-rekan media dan musisi yang meramaikan gelaran akbar ini.

Sekitar pukul 13.00 WITA kami sampai di hotel dan beristirahat sejenak, sebelum jam 15.00 WITA menuju ke venue di Garuda Wisnu Kencana bersama dengan rekan-rekan media yang lain. Saya memutuskan untuk tidak beristirahat, karena memang sudah ada janji untuk bertemu dengan teman lama saya di lobby hotel, Puti Chitara dimana Puti juga akan perform bersama Barasuara pada hari kedua, karena kebetulan kami menginap di hotel yang sama.

Dari pertemuan saya dengan Puti, pertanyaan saya sedikit terjawab mengenai apa yang membedakan Soundrenaline kali ini, dari konten musiknya tentunya. Informasi yang saya dapat saat itu, Cholil akan diterbangkan langsung dari Amerika Serikat dan bergabung dengan Efek Rumah Kaca (beberapa pertunjukan terakhir Efek Rumah Kaca sang  vokalis, Cholil Mahmud tidak hadir karena sedang menjalani studi di Amerika Serikat), selain itu ada kabar lain bahwa Efek Rumah Kaca juga akan menggelar sebuah pertunjukan rahasia di Jakarta di hari Senin (5/09), dan drummer dari Temper Trap tidak bisa hadir karena ketinggalan penerbangan dari London, Inggris. Sedikit bocoran dari teman saya ini tentu semakin menambah rasa penasaran saya untuk menyimak Soundrenaline 2016 ini.

Sesampai di Garuda Wisnu Kencana, langkah saya langsung menuju ke Louder Than Ever stage untuk menonton penampilan dari band ska asal Yogyakarta, Shaggydog dan Navicula. Seperti di panggung-panggung sebelumnya, tidak ada penampilan khusus dari 2 band ini, kecuali kolaborasi Robi Navicula di salah satu lagu Shaggydog. Namun ada sedikit catatan khusus dari saya untuk Navicula dan NTRL, dimana beberapa minggu sebelumya beredar isu di media sosial bahwa musisi Bali memboikot gelaran Soundrenaline ini, karena salah satu band gaek asal Bali tidak diundang untuk perform mengingat band ini adalah salah 1 band yang aktif menyuarakan aksi tolak reklamasi di teluk Benoa, Bali. Isu tersebut nampaknya hanya menjadi isapan jempol belaka, karena kita semua tentu tahu, Navicula adalah band Bali yang juga menyerukan gerakan sosial tersebut, namun tetap diundang untuk tampil, begitu juga NTRL, dimana sang gitaris, Coki juga terlihat terlibat juga bersama Navicula dalam salah satu panggung aksi tolak reklamasi teluk Benoa, dan di situs Youtube dapat disaksikan juga penampilan kolaborasi dari Navicula dan Coki dalam aksi tersebut.

DSC_8334

Mrs.Sari tampil cukup interaktif dengan penonton di Soundrenaline 2016

Saya kemudian beralih ke Go Ahead Stage untuk menonton penampilan dari Whiteshoes And The Couples Company. Ada yang sedikit berbeda dari formasi mereka kali ini, karena Ms. Mela berhalangan hadir dikarenakan sakit dan terpaksa digantikan oleh additional keyboardist. Di Amphitheater Stage, ada penampilan dari band-band GAC (Go Ahead Challenge) dimana Posion Nova, band Metal asal Cirebon berkolaborasi dengan Arian13 dari Seringai di salah satu lagunya.

Penampilan lain yang mencuri perhatian di hari pertama ini adalah Soundrenaline Project, dimana Nikita Dompas, Neonomora, Marcello Tahitoe, Andi /rif, Kikan Namara, Kallula Harsynta, dan Felix Davide, Nikita Dompas memberikan suguhan musik kolaboratif sebanyak  13 lagu populer dilantunkan selama 45 menit. Disaat hampir seluruh penonton tersedot menonton Simple Plan di A Stage, saya tertahan di panggung Louder Than Ever karena akses menuju A Stage sudah sangat crowded. Meskipun tampil bersamaan dengan Simple Plan, panggung Endank Soekamti tetap dipenuhi oleh para Kamtis (sebutan untuk fans Endank Soekamti) yang datang dari berbagai kota di Indonesia.  Kurang lebih 55.000 penonton memadati Soundrenaline 2016 di hari pertama ini.

DSC_8389

Efek Rumah Kaca saat sesi talkshow

Tidak banyak band yang saya tonton di hari kedua karena sekitar pukul 18.00 WITA saya baru datang di venue, meskipun tidak sempat menonton penampilan dari Efek Rumah Kaca di Go Ahead Stage, saya berkesempatan mengikuti sesi talkshow bersama band pop asal Jakarta ini. Saat disinggung mengenai isu politik yang kental di lagu-lagu ERK, Cholil menjelaskan tidak menjadi masalah dan nyatanya mereka tetap tampil di Soundrenaline untuk pertama kalinya. Cholil juga menyatakan ERK menyampaikan pesan kepada masyarakat melalui karya mereka, dan diharap masyarakat juga mendapat edukasi tidak sekedar mengambil nilai entertaiment nya saja. Hal ini selaras dengan tema Soundrenaline kali ini yaitu “Louder Than Ever”. Rasa penasaran saya mengenai siapa drummer pengganti The Temper Trap terjawab sudah. Morris, drummer dari Andra and The Backbone ternyata yang didapuk untuk menggantikan posisi dari Toby Dundas. Meskipun hanya memiliki waktu kurang dari 24 jam untuk berlatih, Morris dapat melakukan tugasnya dengan baik kali ini.

DSC_8371

DDHEAR memberikan salam kepada penonton seusai perform

Penampilan dari DDHEAR (proyek kolaborasi Endah n Rhesa dan Dialog Dini Hari) juga cukup mencuri perhatian, karena Amphitheater Stage menjadi sangat penuh sesak oleh penonton dan pintu masuk ke panggung ini terpaksa harus ditutup karena sudah tidak bisa menampung penonton lagi.

Di hari kedua yang dipadati kurang lebih 60.000 penonton ini saya lebih banyak berinteraksi dengan para penonton, dimana banyak dari mereka malah datang dari luar pulau Bali. Beberapa dari mereka ternyata juga menyempatkan diri untuk cuti kerja demi bisa datang langsung ke hajatan akbar ini. Hal ini tentu membuktikan bahwa Soundrenaline telah dikenal sangat luas oleh masyarakat di Indonesia, dan menjadi sebuah festival musik yang sayang untuk  dilewatkan. Kebanyakan dari penonton juga lebih puas dengan Soundrenaline tahun ini, karena musisi lebih beragam dan konten acara yang jauh lebih menarik. Saat saya tanya mengenai venue, kebanyakan dari mereka jika Soundrenaline digelar di Bali lagi, venue diharapkan untuk pindah ketempat lain, karena sudah 2 kali Soundrenaline di gelar di GWK dan Bali yang dikenal dengan pariwisatanya sebenarnya masih belum memiliki banyak ruang untuk menggelar sebuah festival musik dengan konsep yang baru, sama halnya dengan Yogyakarta, tempat dimana saya tinggal.

DSC_8314

Penonton menggunakan aksesoris unik untuk tampil beda di Soundrenaline 2016

Dari konten acara, Soundrenaline ‘Louder Than Ever’ ini jauh lebih menarik dibanding tahun-tahun sebelumnya, karena banyak sekali proyek kolaboratif seperti Localbrand.co.id yang melakukan kompetisi desain untuk merchandise Soundrenaline, DDHEAR x You dimana para fans merespon karya musik dari DDHEAR dan ditampilkan saat pertunjukan mereka kali ini, workshop kreatif bersama Catalyst Arts, dimana para seniman dan ilustrator dari Catayst Art memberikan workshop kreatif dan cuma-cuma kepada para penonton, Grafis Huru Hara yang menyulap panggung Go Ahead Stage dengan menggunakan 52 warna di medium seluas 40×14 meter dan juga melibatkan para pelaku kreatif Indonesia dalam proyek yang bernama Jalan Kenangan dengan menghadirkan Market Place di gelaran ini.

DSC_8385

Bam Mastro dari Elephant Kind mengokupasi panggung Soundrenaline untuk pertama kalinya

Dari sisi line up, buat saya Soundrenaline kali ini jauh lebih menarik, karena menggabungkan emerjing band pendatang baru dan juga band-band skala Nasional. Kesempatan untuk tampil juga diberikan kepada Efek Rumah Kaca, Isyana Sarasvati, Elephant Kind, Scaller dan musisi lokal lainnya yang sebelumnya belum pernah tampil di festival musik ini.

Kedepannya, semoga Soundrenaline tetap menjadi sebuah festival musik yang menjadi rujukan utama para penikmat musik di Indonesia, dan lebih banyak lagi melibatkan musisi lokal dalam konten acaranya dengan menyajikan genre musik yang lebih beragam lagi dan juga program-program kreatif yang lebih menarik tentunya.

 

 

 

Author: Komang Adhyatma

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *