Spraynard dan Suara Pop-Punk Pinggiran di Album ‘Mable’‏

Spraynard

Spraynard sempat bubar pada 2012 dan menyisakan satu debut LP Funtitled kepada khalayak lewat Asian Man Records. Tahun lalu mereka kembali bersatu dengan formasi baru, melakukan tur, masuk studio untuk menyiapkan sebuah album lanjutan berjudul Mable. Album itu akan dirilis oleh label legendaris Jade Tree setelah sebelumnya mengeluarkan single 7″ Bench.

Dibentuk tahun 2008, oleh Patrick Graham, Patrick Ware dan Mark Dickinson (Kemudian diganti Jake Guralnik dari Hold Tight!), Spraynard sendiri adalah band pop-punk yang tidak melupakan bahwa punk adalah unsur dominan dalam genre tersebut. Spraynard kembali menempatkan pop-punk dengan nuansa chaotik plus mosh-worthy terinspirasi Plow United.

Dalam sesi interview Noisey, Spraynard bicara banyak hal di balik album baru Mable. Mereka mengukir lirik serta melodi distorsif eksistensial serta kian personal. Terutama soal pengaruh scene dan tempat tumbuh mereka di West Chester, Pennsylvania. Alih-alih keluar ke kota-kota besar untuk mencari kesenangan dan pekerjaan, personel Spraynard justru bertahan di West Chester membangun intimasi scene mereka secara jujur.  Siapa sangka, anak-anak punk di sana lebih sering terlihat di malls ataupun di resto franchise khas Amerika bernama Applebee’s. Persoalannya pun bisa lebih dari sekedar rasa bosan, namun urusan pilihan tempat hidup ditawarkan sebagai sesuatu yang politis.

“Dulu prinsip band kami adalah, ‘persetan kota, kami ingin tinggal di daerah pinggiran, tidak akan mau pergi, kami berusaha membangun sesuatu di sini. Tapi sebagian dari album ini bermakna, ‘saya berusia 26 tahun dan masih tinggal di daerah pinggiran…apa ini bagus?” ungkap Graham dalam interview-nya bersama Paul Blest dari Noisey.

Paul Blest menyebut Spraynard berada di antara band-band dari scene DIY yang sangat community-oriented. Mereka berhasil juga menginspirasi tumbuh kuatnya scene di kota-kota pinggiran. Dan memang, tidak peduli scene itu kecil atau besar yang terpenting kita berani menghidupi konsekuensinya. Karena tempat tinggal sudah menyulut angst paling besar bagi anak-anak muda di mana saja. Rasanya, ketidakpuasan tersebut pun lumrah menjadi topik yang banyak dibicarakan oleh band-band pop-punk. Makanya, band-band pop-punk dari suburbia lebih menarik dan tidak bisa ditampik skalanya cukup mendominasi.

Akhirnya, Mable merupakan satu album pop-punk yang pantas didengarkan. Jade Tree Records akan mulai memasarkannya pada 10 Juli mendatang. Sementara menunggu, mari simak single Applebee’s Bar dan Everywhere.

 

(Visited 90 times, 1 visits today)

Author: Trian Solomons

Share This Post On

Submit a Comment