Stage of Architecture 2013: Return “Arsitektur Lupa Ingatan”

Sabtu (11/5) lalu adalah malam minggu yang dingin dan hujan di Jogja. Tetap saja, cuaca buruk tidak pernah menghalangi anak-anak muda kota ini untuk menikmati sajian musik. Paling tidak ada tiga event musik yang digelar di Jogja saat itu, dan salah satunya adalah Stage of Architecture 2013 “Return” dalam tema “Arsitektur Lupa Ingatan” besutan para mahasiswa teknik arsitektur Atma Jaya Yogyakarta. Event musik ini adalah puncak acara Sepekan Arsitektur oleh himpunan mahasiswa jurusan tersebut. Acara yang diadakan di gedung Societet kompleks Taman Budaya Yogyakarta itu memanggungkan nama-nama besar seperti Melancholic Bitch, Fonticello, Individual Life, dan Keroncong LA. Tak ketinggalan, band pop balada yang sedang ramai diperbincangkan, Jalan Pulang, dan grup neo-keroncong yang terjangkit virus 48, SAKA, juga meramaikan acara tersebut.

Memasuki gedung Societet, penonton dimanjakan berbagai fasilitas pertunjukan musik kelas menengah, mengimpaskan Rp 15.000 rupiah yang mereka bayarkan untuk selembar tiket. Pertama-tama masing-masing penonton diberi sebuah zine yang merupakan sejenis booklet panduan acara versi cutting edge. Zine lucu berjudul “Back to the Future” ini laris dibaca-baca para penonton yang datang lama sebelum acara dimulai demi mengokupasi tempat duduk di gedung teater tersebut. Memang, dalam acara satu ini para penonton didudukkan di kursi empuk berbeludru merah gedung pertunjukan tua itu. Kedua, para penonton dilarang membawa makanan, minuman, dan rokok di dalam gedung.Mungkin alasannya adalah kebersihan dan kenyamanan bersama, namun peraturan nonton band-band-an yang agak ketat ini malah memberikan kesan martabat pada acara ini. Ketiga, tata panggungnya terlihat megah dan “niat”, memanjakan mata para penonton sekaligus memudahkan tugas para fotografer.

Acara dibuka dengan sedikit seremoni pemberian hadiah pada mereka pemenang lomba fotografi yang karya-karyanya dipajang di lobi Societet.Selanjutnya, ketika mikrofon MC diambil alih oleh Ican Harem dan Ahmad Oka, acara musik yang pecah tapi tetap mencoba formal pun dimulai.Band pertama yang dihadirkan adalah Rukmakala, band glam-rock milik jurusan arsitektur sendiri yang terbentuk tiga minggu sebelum acara ini.Dua lagu keras dari mereka cukup menaikkan tensi pertunjukkan.Selanjutnya ada SAKA yang memainkan komposisi cak-cuk-bass-biola-pianika plus sentuhan akapela yang menawan tapi kocak.Mereka melagukan versi neo-keroncong dari ‘Baby Baby Baby’ milik JKT 48 dan sebuah lagu keren gubahan mereka sendiri bertajuk “Cakrawala”. Band dengan vokalis kribo itu selanjutnya memberikan panggung pada grup keroncong senior Keroncong LA. Agak mengejutkan melihat grup keroncong tulen yang terdiri dari bapak-bapak itu manggung di acara anak muda seperti ini.Grup ini memainkan lima tembang lawas, dan disetiap lagunya mereka menampilkan vokalis yang berbeda. Saat Keroncong LA melagu, screen di latar belakang panggung mulai menampilkan video dokumenter hitam putih tentang masa awal perkeretaapian di Indonesia. Penonton seolah ditarik ke masa lalu dengan gabungan musik dan video yang hampir terlalu vintage itu.

Akhirnya kemudaan kembali merajai panggung ketika Jalan Pulang naik pentas. Penonton dibikin menahan napas ketika lampu panggung yang redup perlahan menyoroti Irfan sang vokalis saat intro

“Lagu Berdua” mulai dimainkan. Selain lagu itu, mereka juga memainkan berbagai repertoire jagoannya seperti “Apa Daya” dan “Jalan Pulang”. Yang menarik, mereka akhirnya menunaikan permintaan berbagai kawan mereka yang meminta “Percakapan Tangis” dibawakan. Dico sang basis mengambil alih stand mike utama dan mereka pun memainkan gubahan lagu yang biasanya tidak mereka mainkan live itu. Atmosfer balada pertunjukkan mereka makin hidup karena layar di belakang mereka memainkan film hitam putih “Stella Maris”.

Setelah Jalan Pulang, panggung diberikan kepada Melancholic Bitch. Disinyalir, band yang namanya dicetak paling besar di poster ini dipanggungkan di tengah-tengah pertunjukkan karena Ugoran Prasad harus mengejar kereta kembali ke ibu kota pukul sebelas malam. Ditambah lagi Ugo terlihat agak gelisah karena tidak bisa merokok selama pertunjukkan di dalam gedung itu. Walau demikian, Melbi tetap sukses membakar gedung teater peninggalan jaman kolonial tersebut. Mereka sanggup menarik para penonton dan personel panitia untuk meninggalkan bangku dan pos masing-masing, dan akhirnya duduk memadati lantai di antara panggung dan kursi barisan terdepan.

Pesona Melancholic Bitch adalah bahwa mereka sanggup mengajak penonton untuk ikut larut dalam pertunjukan sebagai pelaku panggung juga. Sebagian besar penonton ikut bernyanyi dan berteriak ketika lirik-lirik kritis “Mars Penyembah Berhala”, “The Street”, “7 Hari Menuju Semesta”, dan “Akhirnya! Masup TV” dibawakan. “Adalah hal yang paling mengerikan ketika… kamu bangun tidur dan mendapati bahwa kamu… akhirnya masuk tivi!”koar Ugo sebelum menyanyikan lagu itu. Ketika “Nasihat yang Baik” dibawakan, ia duduk di pinggir panggung dan kemudian malah turun ke antara penonton dan membelai beberapa pipi mereka yang beruntung sambil menyanyikan lagu yang mendayu itu.

“Mbak namanya siapa?”tanya Ugo sebelum bait terakhir dinyanyikan pada seorang personel panitia bernama Gea yang duduk terpesona di lantai di depan panggung. “Gea ingin tidur… Gea lelah bermain seharian…”nyanyi Ugo memungkasi lagu itu membuat gadis tersebut tersipu dan dihujani sorakan teman-temannya. Melbi mengakhiri set pertunjukkan mereka dengan “Menara” yang selalu brutal dan total.

Setelah Melancholic Bitch mengakhiri pertunjukan mereka, giliran pemuda-pemuda gondrong dari Fonticello yang menggeber Societet dengan irama metal. Tiga pemain cello gahar dan seorang drummer handal membuka set Fonticello dengan “Sing for Absolution” dari Muse. Setelah lagu intro itu, seorang vokalis yang agak terlalu metal mengambil alih transfer energi dari band ke penonton. Mereka memainkan “What You Deserve” dari Il Nino dan “Killing in the Name” dari RATM. Setelah dua lagu itu, sang vokalis rehat sejenak ke backstage dan para pemain cello duduk di kursi untuk memainkan sebuah gubahan balada mereka sendiri yang berjudul “Fake”. Setelah itu, sang vokalis kembali melompat ke dalam panggung dan memungkasi set pertunjukan mereka dengan “Redneck” milik Lamb of God dan “Grace” milik Apocalyptica.

Setelah cello-rock, giliran Individual Life yang dramatis yang mengambil alih perhatian penonton. Walau sedikit terkendala masalah teknis, band instrumental ini masih sukses menghipnotis para penonton dengan megahnya pertunjukkan mereka. Total ada enam lagu yang mereka mainkan, termasuk “Paripurna” dan “Lalulalang”. Kebanyakan penonton mengaku terkesima disuguhi permainan suara yang

apik ditimpali video Baraka yang diputar di layar sebagai latar belakang. Bayangkan saja bagaimana transnya Anda ketika Individual Life memainkan “Metropolis” ketika latar belakangnya adalah tarian primitif ribuan tangan dalam Kecak Bali. Individual Life sukses memungkasi Stage of Architecture dengan apik dan memuaskan.

Entah apa yang melintas di pikiran para panitia ketika mereka menetapkan “Arsitektur Lupa Ingatan” sebagai tema besar acara sepekan mereka ini. Yang jelas, event musik di Societet pada malam minggu yang hujan itu sangat pantas untuk diingat.(GS)

(Visited 135 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment