Suara Tujuh Nada: White Shoes and the Couples Company, Stars and Rabbit, Dialog Dini Hari

Kemaren adalah hari yang sempurna di Jogja! Hari cerah dan sejuk, dan kebon pisang di deket rumah saya gemerisik kena angin kayak di novel-novel klasik Indonesia. Terlebih saya sudah restless dari sore karena malemnya akan dateng ke gigs super keren di Teater Garasi, rangkaian tour Suara Tujuh Nada dari G Production yang menampilkan White Shoes and the Couples Company, Dialog Dini Hari, dan Stars and Rabbit. Sejujurnya yang paling saya tungguin adalah Stars and Rabbit. Walau temen-temen saya lebih heboh karena WSATCC dan DDH, saya ga sabar pengen nonton Stars and Rabbit karena Elda itu vokalis yang bikin saya bela-belain begadang waktu muda dulu untuk nonton suatu ajang pencarian vokalis rock di Indosiar, plus single mereka ‘Worth It’ adalah lagu yang gak pernah absen saya putar setiap pagi untuk membangkitkan mood. I was soooo excited!

Ketika saya dan Gaby, kakak sepupu saya yang belakangan ini menjadi gokil, sampai di Teater Garasi, Bugisan, venue udah penuh sesak 250 orang yang menunggu pintu dibuka. Kami berdesak-desakan, bertemu dan berpelukan dengan beberapa teman, melihat-lihat poster dan flyer, plus membeli beberapa merch. Saya sih gak beli, ga punya duit T.T , padahal pengen beli totebag-nya Belkastrelka (50K) dan kaos Stars and Rabbit (mungkin sekitar 130K). Sekitar setengah delapan pintu venue dibuka dan kami membanjir masuk berusaha mendapatkan tempat duduk yang pewe. Saya agak beuntung bisa duduk di kursi paling depan yang tidak terlalu pinggir. Temen-temen yang ga kebagian kursi malah duduk lesehan pas di depan panggung, yang menurut saya adalah tempat sempurna untuk nonton karena yang ditonton benar-benar di depan mata.

Rizky Summerbee membuka acara sebagai MC, lalu mempersilakan Elda dan Adi untuk memulai pertunjukan. Bener-bener ga salah saya jagoin duo manis ini. Elda kueereeeeeeeeeeeeeeen bangettt, super imut dengan outfit boho, hair piece biru, dan kepang pigtails yang unyu. Suaranya yang unik dan soulful bener-bener berpadu dengan gitaran akustiknya Adi yang bener-bener menggenjreng hati semua audience. Dengan kekerenan itu agak mengherankan ketika Elda mengaku dia nerves karena berbagi gig dengan band-band bernama besar. Menurutku, you’re on the way there Eldaaaa!!! Stars and Rabbit keren banget!! Dan kebahagiaan adalah menyanyikan lagu favorit kita bersama semua orang dan penyanyinya itu sendiri. Saya melebur besama seluruh ruangan menyanyikan ‘Worth It’ bersama-sama, and I feel eternal. Selain lagu itu, Stars and Rabbit juga menyanyikan ‘You are the Universe’, ‘,Man up on the Hill’, ‘Old Man Fingers’, ‘Like it Here’, dan beberapa lagu lain.

Setelah Stars and Rabbit selesai, Rizky Summerbee muncul lagi sebagai MC, kali ini ditemani Ugoran Prasad. Mereka sempat memberi tahu beberapa acara di Teater Garasi yang akan diadakan, salah satunya Klub Menonton (atau apa ya, aku lupa deh), yang adalah nonton film bareng-bareng setiap Kamis minggu kedua di Teater Garasi. Kemudian akhirnya Dadang SH Pranoto, si green grunge gentleman, naik panggung dengan gitar akustiknya dan menyanyikan lagu yang bakalan bikin semua cewek quirky rontok hatinya. Liriknya semacam,

Jika aku laba-laba akan kubiarkan engkau melahapku sehabis bercinta agar aku tak bisa bercinta dengan yang lain… Jika aku anjing akan kukencingi engkau supaya anjing lain tahu engkau milikku… Jika aku belalang sembah akan kubiarkan engkau memenggal kepalaku supaya aku tak bisa membuahi yang lain… namun aku hanya manusia dengan cinta dan rindu yang sederhana…”
Mai gat, gimana gak rontok hati perempuan, apalagi mas Dadang itu bentuknya super etnik dengan rambut gimbal yang diikat pakai kain tenun, dan suara merdu hampir mirip Iwan Fals. Setelah lagu pertama yang menggugah saya dan Gaby untuk menggaruk-garuk tanah itu, sang bassis (Zio) dan drummer (Denny Surya) naik panggung, dan mulailah pertunjukkan trio jazz-etnik-pop-keren dengan lirik-lirik super yang selalu bisa kita tulis pakai tinta merah dan ditempel di kamar untuk jadi kata-kata penyemangat. Mereka membawakan lagu-lagu terkenal mereka seperti ‘Rehat Sekejap’, ‘Renovasi Otak’, dan ‘Oksigen’. Temen-temen penonton lain rupaya sudah sangat hafal lagu-lagu mereka ini. Salah saya saya tidak gaul, tapi tetap bisa menikmati atmosfer yang tercipta dan benar-benar menikmati pertunjukkan soulful itu.

Sesi terakhir adalah White Shoes and the Couples Company! Dengan formasi empat cowok-cowok ganteng yang terjebak masa lalu dan satu gadis sampul majalah 1960an yang naik mesin waktu ke tahun 2013, mereka benar-benar menjadi puncak acara! Sari, dengan potongan rambut bob keren, gaun hijau yang oke banget di dia, plus sepatu dansa putih, benar-benar mempertunjukkan hiburan yang diperjuangkan anak-anak muda jaman Pak Karno. Suaranya sengau dan menggelora, dipadu aksi dansa yang jadulnya otentik, dan didukung backing vokal cowok-cowok yang keren banget! Aku selalu suka band-band yang semua personelnya ikut menyanyi kayak gini, apa lagi vokalis utamanya cewek dan backing vokalnya banyak cowok. Aku suka bangetttt!!!

Sayang keyboardis mereka ga ikut manggung kali ini, tapi mereka menyajikan suatu aransemen baru dengan cello dan glockenspiel yang manis banget. Di tengah acara Sari rehat ke belakang panggung, dan para cowok pun mengambil alih acara. Mereka sempet tuker-tukeran instrumen dan memainkan beberapa lagu dengan formasi yang berbeda. Setelah Sari kembali ke panggung, mereka memainkan lagu-lagu daerah dengan aransemen mereka. Yang paling memorable mungkin ‘Aksi Kucing’, “untuk apa malu-malu kucing..Meong! Meong!

Pertunjukkan berakhir, tenggorokkan saya sakit gara-gara teriak-teriak, dan tangan saya pedes karena bertepuk tangan. Saya juga sempet berfoto mentel dengan Saleh, gitaris tengil WSATCC, dan John Navid, drummer lucu dengan rambut lucu. Saya seneng banget malam itu!

Sebuah catatan tentang konser Suara Tujuh Nada, ditulis oleh Gisela Swara Gita

Photos: Arif Karunia Putra

(Visited 320 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment