Suasana Hangat Keluarga Besar Sineas di Piala Maya 2015


IMG_3675

Selayaknya ajang bergengsi lainnya, Piala Maya 2015 hadir dengan rapih dan anggun. Namun bedanya, suasana kekeluargaan yang intim dan akrab menyeruak hangat di gedung Soehanna Hall, Energy Building, Jakarta, Sabtu (19/12) lalu. SORE dipilih menjadi band pembuka acara. Menampilkan lagu-lagu andalan mereka yang tak asing lagi seperti Pergi Tanpa Pesan dan Sssst…. Satu persatu misteri siapa memenangkan nominasi apa mulai terkuak. Tak jarang para pemenang  yang melakukan speech, berbicara santai sambil menyisip guyonan-guyonan ringan, seperti sedang hangout bareng teman. Bahkan beberapa sineas, yang dipelopri oleh Gandhi Fernando, mengumbar nomor handphone di podium sebagai ajang promosi. Ya, memang diakui sendiri oleh Bounty Umbara, peraih penyunting gambar terpilih Piala Maya 2015, bahwa malam itu yang ia lihat di Soehanna Hall adalah teman-teman sineas yang tidak asing lagi. “Senengnya saya sama Piala Maya ya ini, di sini yang saya lihat ya orang-orang yang sama, yang saya kenal. Sesama pekerja sineas. Nggak seperti ajang yang kemaren, banyaknya malah liat pebisnis hehehe” ucap Bounty yang diikuti riuh tepuk tangan, senyum merekah, dan tawa-tawa kecil dari orang-orang yang datang.

Teks Berbahasa Indonesia Untuk Film Indonesia

Malam itu nominasi penata musik terpilih diumumkan oleh penyanyi kondang Dewi Yull, ditemani anaknya yang memiliki kekurangan pada indra pendengarnya, Panji Surya Putra. Di podium sebelum membacakan nominasi, Dewi Yull mengatakan bahwa ada kurang lebih 2 juta masyarakat Indonesia yang tuli. Selama ini, ia bilang, kaum tuli hanya bisa menonton film dari luar negeri, karena film-film itu menggunakan teks. Karena itu, ia berharap agar film Indonesia bisa meberikan teks, karena kaum tuli juga sangat ingin menikmati film Indonesia.

DVD/VCD Yang Hilang

Apresiasi juga diberikan pada rilisan fisik (DVD) terpilih dengan nominasi Assalamualaikum Beijing & Haji Backpacker, Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, Selamat Pagi, Malam, Sokola Rimba, dan Tabula Rasa. Koleksi DVD Terpilih dimenangkan oleh film Selamat Pagi, Malam. Apresiasi ini tentu saja untuk menstimulasi semangat para pembuat rilisan fisik VCD maupun DVD, yang telah dan masih bertahan untuk terus berkarya, meski pembajakan sudah merajalela. Kini pembuat rilisan fisik terus menerus berkurang karena kalah telak dengan pembajakan. Bahkan pemasok DVD yang cukup besar seperti Disc Tara memutuskan untuk menutup seluruh gerainya dan menyisakan satu gerai yang berada di Sabang, karena rilisan fisik mulai ditinggalkan dan dihantam oleh para pembajak. Lewat ajang ini dan melalui nominasi ini, diharapkan penonton Indonesia sebisa mungkin menghindari pembajakan dan membeli produk asli. Beli bajakan seharga Rp 8.000, karya asli seharga Rp 25.000, dengan selisih Rp 17.000 yang tidak terlalu besar ini kita bisa membantu karya anak bangsa, karya teman kita, why not?

Di penghujung acara, Hafiz Husni (Founder dan Festival Director Piala Maya 2015) dan dr. Daniel Irawan (ketua komite pemilih) membacakan nominasi film panjang terpilih Piala Maya 2015, dengan mendatangkan wakil sineas yang datang dari luar kota (luar pulau Jawa) untuk berdiri membawa poster masing-masing film nominasi, dan sama-sama membuka amplop yang berisi nama peraih film panjang terpilih Piala Maya 2015. Hal ini sangat menarik, dapat terlihat pesan dari acara ini bahwa film tidak hanya satu pusat di daerah pulau Jawa saja, tapi juga luar Jawa.

(Visited 99 times, 1 visits today)

Author: Yuna Pradjipta

Share This Post On

Submit a Comment