Telepop #7, Ajang Reunian Penggemar Musik “Pop” Kota Malang

DSC_0399

Reporter: Alfan Rahadi

Dua tahun vakum tak membuat aura Telepop meredup. Malam itu 28 Mei 2016 adalah tahun ke sepuluh perhelatan ini sejak pertama diadakan tahun 2006 di Pulosari. Mengambil tajuk Telepopvision, Malang Sub Pop menawarkan sebuah atmosfir dan tema televisi, sebuah kotak ajaib yang menjadi primadona bahkan sempat mengalahkan pamor bioskop di pertengahan abad 20. Seperti press release yang diedarkan, televisi ini mewakili gerbang antara masa lalu, masa kini dan masa depan.

Atmosfir “gig” yang intim sudah mulai terasa sejak terlihatnya tampilan dekor yang sederhana namun tematik dan dekatnya panggung dengan penonton. Jadwal dan lineup terpaksa berubah karena The Morning After tak jadi tampil sehubungan dengan vokalis mereka Bambang Iswanto yang harus masuk rumah sakit. Akhirnya penampil pertama jatuh pada Folkapolka dan waktu mereka tampil jam sudah menunjukkan jam setengah lima. Namun sebagai showstarter Folkapolka menunjukkan pesona mereka dengan berhasil mengundang pengunjung untuk memenuhi seperempat kapasistas Laughboratorium saat itu dengan empat lagu dari EP First Journey. Bak opening yang spesial, acara dilanjutkan setelah break maghrib, penonton seaakan digiring untuk dipersiapkan menghadapi kemeriahan yang sudah disiapkan panitia untuk hari itu. MC Santoso yang kala itu tampil bak anggota reog dengan kaus striped merah putihnya dan rambut gondrongnya, nampaknya tidak kesulitan menggiring penonton dengan joke – joke renyahnya.

Chamomile pun memasuki panggung usai penonton melakukan break maghrib. Mengklaim sebagai pengusung storytelling music vokalis Yuwan Julianingtias bersenjatakan glockenspiel dan sebuah mic menyanyikan lagu – lagu yang diluar kebiasaan chorus-verse structure mengikuti “cerita yang dinyanyikan” yang diambil dari EP perdana mereka Yume.

Dengan ditemani Praherdyan dan Ronald pada guitalele dan gitar akustik, Chamomile menawarkan set yang sederhana namun karena komposisi lagu – lagu Chamomile yang sophisticated, memberikan kekayaan tersendiri pada musik mereka. Tema televisi ini pun mulai menunjukkan gemerlapnya saat dekorasi berbentuk televisi mulai menyala ketika Chamomile bermain. Atap Laughboratorium yang bisa membuka otomatis sesekali memberikan pemandangan langit berbintang yang menambah uniknya showcase kali ini.

Usai Chamomile, giliran Frank! memanaskan suasana, band yang mengusung garage/post-punk revival 2007an itu baru saja merilis Self-Titled EP. Lagu – lagu seperti Turn On My Heart mampu menjadi pemantik yang pas untuk semangat penonton yang menunggu dibakar. Berlanjut ke Walking Down The Street Pio sang vokalis dengan sebatang rokok di jari metransmisikan energi kepada penonton.

Dilanjutkan dengan Young Savages, sextet yang mulai menghiasi panggung musik di Malang ini seakan ingin menularkan kembali virus – virus britpop yang memang mengakar di Malang ini. Aroma Cage The Elephant, Tribes , All The Young dan Starsailor begitu pekat di lagu lagu mereka, bahkan tak lupa mengkover Trouble dari Cage The Elephant.

Much adalah penampil selanjutnya, dengan formasi yang sedikit menarik,yaitu dengan absennya one half dari formasi depan dari band ini dan juga bassist mereka Vino yang mendadak menyusut menjadi seukuran Iyok (Beeswax), if you know what i mean. Dengan tampilnya iyok menggantikan Vino, tak bisa dikatakan bahwa beesmuch or muchswax menjadi boyband malam itu. Nomor – nomor seperti Carried Away, Love’s So Demanding You’re So Demanding, dan Break Heart Break Apart dibawakan dengan mantap dan lebih terlihat sisi masculine angstnya, oh iya mereka membawakan cover The Rembrandts – I’ll Be There For You (ost.Friends).

Coldiac adalah salah satu dari band – band Malang yang mengusung indie slash rnb slash vaporwave slash 80s philia. Merupakan reinkarnasi dari band poppunk Piratez, Coldiac mengambil pendekatan yang berbeda 180 derajat dari wujud mereka sebelumnya. Dengan tembang andalan Heartbreaker, Telepop bak diguyur gemerlap lantai dansa. Rapinya permainan Coldiac menjadi nilai plus mereka.

Giliran Jenar tiba. Mereka membawakan seluruh isi Fase EP dengan menggelegar dan emosional, ibarat Elliott dibenamkan di layer reverb yang tebal. Lagu – lagu seperti Blindfolded dan 1/2 menjadi andalan mereka untuk dibawakan. Bisa dibilang Jenar adalah shoegaze namun dengan dinamika yang emotive seperti ketel air yang mendidih dan bersiul keras pada puncak nya.

I’m Sorry I’m Lost (baca; ISIL) menyusul tampil setelah Jenar usai. Telepop ini terasa layaknya telepop – telepop sebelumnya dengan komposisi band indiepop yang berlirik dan satu dua band post-rock. Seperti batu lava yang meleleh, mereka seperti ingin melelehkan energi mereka agar meluber ke penonton, tampak penonton khidmat sambil sedikit mengangguk – anggukan kepala  ketika I Hate You and Your Drama mereka bawakan, sebuah single yang akan keluar Juni ini.

Kemudian tiba giliran Banana.co and friends, mengapa and friends? Karena memang band gaek ini tampil dengan formasi tambal sulam, dengan anggota additional. Tapi itu tidak membuat Desember Akhir, Dead End dan Sanitaire kehilangan energi nostalgiknya. Sekitar belasan penonton yang diisi dengan bapak – bapak muda tak lelah bercrowdsurfing, lompat-lompat dan singalong sambil tunjuk jari ke Banana.Co, apalagi ketika TV WARNA dibawakan, seakan dekorasi dan tema telepop kali ini menjadi lebur dalam satu momen.

Akhirnya last but not least. Megatruh menjadi penampil penutup. Band yang terakhir merilis single Lokakarya Lupa di Record Store Day kemarin ini membawakan Annelies, Kurang Dari 3 dan Jaring. Penutup yang mumpuni terbukti dengan antusiasnya penonton yang mendekat saat mereka tampil dan memuncak ketika Wahana Bumi Megatruh dibawakan.

 

 

 

 

(Visited 74 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment