Tentang Jogja Dan Lirik Bersama Banda Neira

Banda Neira

Sabtu (9/11/2013) redaksi kami mendapat kesempatan untuk interview santai bersama duo akustik Banda Neira  asal Bandung yang beranggotakan Rara Sekar, mantan aktivis LSM Hak Asasi Manusia KONTRAS yang sekarang bekerja disalah satu NGO (Non Goverment Organisation) di Bali dan Ananda Badudu seorang wartawan  di Harian TEMPO. Berikut hasil interview editor kami, Komang Adhyatma bersama mereka:

Gimana nih perasaan kalian setelah pertama kalinya perform di Jogja?

Seneng banget tentunya, karena sebagai kota yang sangat respect dengan kesenian, Jogjakarta malam ini ngasih kenangan tersendiri buat kami. Asik-asik penonton nya. Tiap kota tentu memiliki karakter penonton yang berbeda, entah itu di Bandung, Jakarta, Bali ataupun Jogjakarta ini sendiri. Tapi sejauh ini yang paling asik ya pas kita perform di Jogja sih. 

Sebagai pendatang baru dibanding Float dan Payung Teduh, gimana perasaan kalian bisa main di event Float 2 Nature?

Ini di luar ekspetasi kami yah, soalnya kami juga engga ada apa-apa nya dibanding dua senior diatas. Meskipun kami terpisah di dua tempat yang berbeda (Jakarta dan Bali), tapi berhubung mendapat tawaran yang menarik, ya kenapa engga kita terima. Kami juga lebih prefer untuk manggung di tempat yang engga ada jarak dengan penonton, bukan main di panggung besar yang dibatasi dengan riging atau podium yang tinggi. Bisa berinteraksi dengan penonton di panggung yang terbuka itu jauh lebih menyenangkan buat kami.

Problem yang sering terjadi di Banda Neira apa sih sebenernya, berhubung kalian kan bekerja di dua tempat yang berbeda, di Jakarta dan Bali?

Problem yang sering terjadi adalah kami engga bisa latihan bareng. Haha! Buat perform hari ini aja kami latihan nya baru tadi siang. Tapi engga jadi masalah juga sih, kami juga engga ada ekspetasi muluk-muluk disini, cukup berkarya dan berkesenian aja. Penggarapan materi lebih banyak di komunikasikan secara online, tapi engga terlalu jadi masalah buat kami, yang penting dinikmatin aja proses kreatifnya.

Semua lirik kalian ditulis dengan bahasa Indonesia, ada alasan tertentu buat itu? Kira – kira kalian ada rencana buat bikin lirik dengan bahasa Inggris?

Buat kami menulis dengan bahasa Ibu itu jauh lebih menyenangkan daripada menulis dengan bahasa asing. Banyak musisi yang bilang membuat lirik dengan bahasa Indonesia itu susah, tapi buat kami disitulah tantangannya, bagaimana untuk bisa menulis lirik yang bagus dengan menggunakan bahasa Ibu, bahasa Indonesia. Dengan itu sebenarnya lirik dapat di eksplorasi lebih jauh lagi, seperti mengambil unsur sastra semacam puisi, misalnya. Sejauh ini belum ada pikiran buat bikin lirik pake bahasa Inggris, karena bakal lebih ribet untuk urusan grammar contohnya.

Di lagu kalian yang berjudul Mawar yang tadi kalian bawakan, ada disisipkan puisi dari tokoh reformasi Wiji Thukul.  Latar belakang kalian nyertain karya sastra seperti puisi di lagu kalian apa sih sebenernya? Apa memang ada hubungan nya dengan latar belakang kalian yang bekerja sebagai aktivis, penulis dan jurnalis?

Selain di lagu Mawar tadi, sebenarnya ada juga kami sadur puisi dari Subagio Sastrowardoyo di lagu yang berjudul Rindu. Sebenarnya kami hanya ingin mengedukasi dan mengingatkan sejenak  para pendengar yang sempat mengalami kejadian-kejadian di era reformasi, ataupun juga buat kalian yang tidak mengalami masa – masa itu karena mungkin masih kecil, tapi dengan adanya lagu ini dapat sedikit mengingatkan akan sejarah yang pernah terjadi di Indonesia.

Photos by: Randy Surya

 

(Visited 362 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment