Tentang Konser Peluncuran Album Perdana Duo Neo-Folk RABU, “Renjana” Di Yogyakarta

 IMG_9427

“Jogja panas yah ga kyk pleret.” kicau @pleretian di twitter, Rabu 25 Juni 2014. Siapa sangka twit yang ganjen itu pertanda kedua personel neo-folk Rabu sudah tuntas melaksanakan turnya ke 6 kota di Jawa dan telah mendarat di kota asal dengan selamat. Si pemilik akun tidak lain adalah Wednes Mandra yang bersama Judha Herdanta telah menambahkan genre “balada gelap terang atmosferik” ke khazanah musik independen Indonesia. Sejak 19 Juni, mereka “gentayangan” di Jakarta, Bandung, Malang, Surabaya, Semarang dan Solo. Hanya ditemani Adi Adriandi yang bergantian dengan Indra Menus, mereka memperkenalkan album perdana, “Renjana” ke khalayak yang sudah penasaran sejak versi digitalnya dirilis oleh Yes No Wave beberapa bulan lalu.

Konser di Jogja dirancang istimewa karena selain menjadi pungkasan rangkaian tur mereka, konser ini juga menjadi pesta “selamatan” untuk album perdana yang akan dirilis. Maka, pada 26 Juni 2014, para gig-goers di Jogja mendapatkan pengalaman nonton band yang berbeda: acara musik sebagai ritual selamatan. Entah karena memang ingin memanjatkan syukur kepada Tuhan dengan cara sedemikian rupa, atau karena memang menyesuaikan dengan konsep Rabu yang mengambil kesan gelap dari spiritualitas Jawa, malam itu Kongsi Jahat Syndicate menyediakan tumpeng nasi kuning dan ayam ingkung di atas talam bambu berlapis daun pisang, disajikan di tengah aroma pekat dupa yang telah dinyalakan di sudut-sudut tersembunyi Lembaga Indonesia Perancis.

Seratus lima puluh orang yang membeli tiket dan sejumlah besar undangan berkerumun di halaman depan LIP ketika Agung “Leak” Kurniawan memimpin doa secara “Nasional”. “Kepada apapun yang ada di atas. Semoga albumnya laris. Semoga bandnya bisa berumur panjang.” ujarnya sebelum memotong pucuk gunungan nasi kuning yang diberi lauk pauk dan diserahkan pada Wednes.

Saat Wednes menerima piring itu secara seremonial dan mencicipinya sedikit bersama Judha, saya teringat bahwa hampir setahun yang lalu Rabu membuka konser Frau yang fenomenal itu di tempat ini juga. Beberapa bulan sebelumnya, saya menonton salah satu penampilan paling awal Rabu di JNM, juga di peluncuran album temannya yaitu MDAE. Saat itu Rabu baru terdiri dari Wednes seorang diri, memainkan untuk pertama kalinya bagi sebagian besar orang, “Lingkar”, “Dalam Tidur”, dan “Kemarau, Bunda, dan Iblis”. Wednes hanya menggunakan gitar akustik boncel-boncel yang harus distem lagi setiap kali berganti lagu. Namun keantengannya yang aneh serta suara vokalnya yang berat dan tidak biasa membuat musik sekaligus penampilan Rabu dengan mudah tertambat di kepala saya. Kini, setahun sejak pertama kali menonton Rabu dan mengikuti sepak terjangnya, saya yakin memang sudah saatnya mereka dirayakan dalam sebuah pesta peluncuran album mereka sendiri.

Pilihan band pengiringnya juga unik: Pribumi dan Sulfur. Keduanya adalah proyek sampingan band-band yang lebih “senior” daripada Rabu. Pribumi terdiri dari Soni Irawan, Handoyo Purwowijoyo, dan Aan Dwirima yang jika ditambahi beberapa nama lagi akan menjadi Seek Six Sick generasi awal. Sulfur adalah Krisna Widiathama dari Sodadosa yang memainkan noise bersama Woro. Kedua band tersebut memainkan setnya di atas panggung LIP yang ditata hitam sambil ditembak slideshow dari proyektor, sementara para penonton dihujani tata lampu merah pekat yang misterius.

Ketika tiba giliran Rabu, panggung ditiadakan. Semua lampu dimatikan. Penerangan remang-remang hanya dari proyektor yang stand by menembak cahaya hitam ke layar di seberang. Kru Kongsi Jahat menata dua kursi di tengah penonton, masing-masing ditumpangi sebuah gitar dan dikelilingi rangkaian efek untuk menghasilkan sound menggaung yang menjadi ciri khas mereka itu. Sebuah stand mic dengan mikrofon yang telah siap digunakan diberdirikan di depan kursi sebelah barat. Kemudian lantai di sekitar kedua kursi tersebut ditaburi bebungaan. Barisan penonton diarahkan ulang untuk mengelilingi tatanan tersebut. Gelap dan diam sesaat.

Kemudian Wednes dan Judha memasuki tatanan panggung tersebut dan tanpa berkata-kata memangku kedua gitar mereka. Keduanya seakan seketika menjelma dua pandita yang telah mengangkat rangkaian nada dari berbagai kantong kesedihan di sudut-sudut semesta dan siap mempersembahkannya pada siapa saja di ruangan itu. Dua lampu titik lampu sorot menyala temaram di atas kepala mereka. Penonton bertepuk tangan. Pertunjukan dimulai.

Selama entah berapa puluh menit yang intens, barisan-barisan lagu dalam album “Renjana” dikumandangkan diiringi tata lampu dramatis. Favorit saya masih lagu-lagu yang sudah disebutkan di atas. Namun saya juga tetap terkesima menyaksikan “Baung”, “Dru”, “Telaga Kasih”, dan “Semayam”. Penonton sedikit tertawa ketika komposisi “Kereta Terakhir” dibawakan, terutama ketika tanpa diduga suara narator imbauan masyarakat untuk berhati-hati di jalur kereta api ikut diputar di akhir lagu. Mereka juga membawakan “Doa Renjana” dan “Penyusup” yang hanya ada di album versi fisik mereka. Ketika mereka selesai, saya mengerjap dan tersadar dari buaian keseraman yang syahdu, kenyang disuguhi sajian estetis dari segala yang singup dan gelap. Sungguh puas, tidak kurang, tidak berlebihan.(Gis/Bdp)

Menurut KKBI, “Renjana” berarti “perasaan hati yang kuat”.

Mungkin itu lah yang “…bersemayam dalam belantara / hati setiap insan yang dilahirkan…”

 

 

 

(Visited 182 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment