Tentang “Menyusuri Jalan Pulang”, Pesta Launching Album Perdana Jalan Pulang

IMG_7035

“If the lead singer doesn’t get laid tonight, there will be no hope for humanity.” Kata seorang berkebangsaan Amerika yang menonton pesta launching “Menyusuri Jalan Pulang” di IFI/LIP Jumat (30/5).Walau saya belum paham di mana letak seksinya musik melankolis, saya sepakat bahwa pesta launching ini cukup elegan.

Entah kenapa seluruh elemen pertunjukan mengingatkan saya pada sinetron-sinetron 90-an di RCTI yang mengadaptasi novel Mira W dan Marga T. Kelima personel berdandan sungguh rapi. Irfan, Damar, Dico, dan Agung mengenakan kemeja yang licin. Margi mengenakan terusan berpotongan sederhana dan sepatu wanita yang manis, lengkap dengan kalung mutiara dan riasan yang dewasa. Mereka benar-benar tampak seperti pemuda dan pemudi baik-baik yang kuliah di universitas negeri ternama, seperti impian Indonesia tahun 90an.

Panggung juga didekor secara artistik. Ada dua instalasi cincin besar di atap yang menjuraikan ratusan helai benang wol warna-warni ke lantai. Di setiap helainya ada perahu kertas warna-warni yang seakan-akan memanjat naik ke atas dengan berpijakkan titian benang-benang wol tersebut. Di latar belakang, mengintip di balik tirai-tirai benang wol, ada ikon ikan salmon besar, ikan salmon yang seakan sedang kembali ke air tawar menyusuri jalan pulangnya. Di atas panggung sendiri berserak sofa dan kursi berbagai bentuk, beserta bass, keyboard, drum, serta banyak (empat!) gitar akustik dan elektrik yang siap dipakai untuk melagu.

Setelah dibuka dengan penampilan duo akustik Slipping Pills, Margi dan Irfan naik ke panggung. Margi langsung menuju ke keyboard, sementara Irfan duduk santai dulu di sofa.  Baru ketika intro “Sajak Pertemuan” disenandungkan, Irfan menuju ke stand mike dan mulai bernyanyi. Sebelum lagu selesai Dico, Damar, dan Agung menaiki panggung. Setelah itu satu persatu lagu-lagu dalam album ini seperti “Apa Daya”, “Lelah”, dan “Lagu Sepi” dinyanyikan bersama-sama. Satu persatu pula para personel berperan sebagai pembicara yang menyapa penonton setiap dua, tiga lagu.

Duet yang unik terjadi ketika mereka menyanyikan “Matahari Kesiangan”. Margi di keyboard bernyanyi bersama Agung di drum. Ada berapa band melankolis di kota ini yang drummernya bisa bernyanyi sambil main drum? Band melankolis lho, bukan band gedombrengan.

Mereka juga menyanyikan tiga lagu baru yang tidak masuk ke dalam album. Ada “Luka Pikiran”, sebuah lagu yang agak marah dan sangat berbeda dari pattern Jalan Pulang yang biasanya. Ada juga “Di Kota ini Tidak Ada Kamu Lagi” dan “Kartu Pos dari Moscow” yang kembali membawa suasana ke kabut melankolia.

Ketika mereka mengakhiri konser tersebut dengan “Sajak Perpisahan” dan “Jalan Pulang”, para penonton tidak mau beranjak dan meminta satu lagi lagu. Akhirnya mereka memainkan “Lagu Berdua”, lagu yang mereka gubah sebagai tanggapan atas sajak favorit karangan Acep Zam Zam Noor.

Ada suasana formal yang seakan ingin dibentuk oleh Jalan Pulang dalam pesta launching tersebut. Bukan hanya tata dekor, pemilihan pakaian, dan jenis musik, namun juga cara mereka berkomunikasi dengan penonton yang seakan-akan baru berkenalan dengan mereka pertama kali. Serius dan resmi. Cara penyapaan ini sering kali jadi fail karena banyak di antara penonton yang adalah teman kuliah dan bermain mereka, yang tahu bahwa kepribadian tiap personel sebenarnya terlalu humoris dan konyol di kesehariannya sehingga banyak celotehan yang membuat suasana tidak boleh jadi melankoli. Balada Jalan Pulang tidak mengisahkan kisah sedihnya malam itu, yang ada adalah presentasi pencapaian teman-teman personel Jalan Pulang kepada sahabat-sahabat dan para pendengarnya yang sudah mendukung mereka selama ini.

“Puas tentu belum, bahagia dan bersyukur itu pasti,”ujar Irfan ketika ditanya tentang kesan-kesannya atas konser tunggal Jalan Pulang yang pertama itu. Lalu apa lagi yang akan mereka lakukan setelah launching? “Rekaman, bikin album lagi.”kata Agung, seperti tidak pernah lelah membuat musik.

Pesta launching ini bisa menjadi ujian yang baru saja mereka lalui untuk lulus dan naik kelas. Pengukuhan karakter (resmi, rapi, melankoli) baru saja mereka laksanakan. Tugas besar mereka ke depan adalah mempertahankannya, terus membuat musik yang sesuai dengan bungkus citra tersebut, dan membawanya ke audiens yang lebih luas lagi.(Gis/Dny)

 

 

 

(Visited 109 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment