Waste Land, Dokumenter Sisi Lain Pengepul Sampah di Brazil

wasteland

Sampah dalam berbagai macam bentuknya kurang menjadi perhatian masyarakat sekarang. Sampah cenderung dilihat sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai. Setelah sebuah benda masuk ke tempat sampah, ia tidak lagi dihiraukan oleh pemiliknya, kemana benda tersebut akan menuju dan menjadi apa. Sedangkan, pemulung menganggap sampah sebagai sesuatu yang cukup berarti. Dari tumpukan-tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir, seorang pemulung mencari secerca harapan untuk melanjutkan hidupnya esok hari.

Lucy Walker, seorang pembuat film dari Britania Raya melihat kehidupan pemulung sebagai sesuatu yang menarik. Ia pun membuat sebuah film berjudul “Waste Land” yang dirilis pada tahun 2010 silam. Film bergenre dokumenter ini menceritakan tentang seorang fotografer bernama Vik Muniz yang ingin membuat potret tentang pemulung di Jardim Gramacho. Sebuah daerah pinggiran di Brazil yang dikonsentrasikan sebagai tempat pembuangan akhir.

Di daerah tersebut orang-orang hidup dari hasil memulung sampah-sampah yang masih dapat didaur ulang. Penduduk Brazil juga kurang menghargai pekerjaan mereka sebelum Vik Muniz membuat sebuah karya fotografi mengenai kehidupan mereka dan menggunakan sampah-sampah daur ulang yang mereka kumpulkan. Ide Vik Muniz muncul dari pengalamannya semasa kecil yang kurang mampu secara ekonomi. Melihat kondisinya yang sudah mapan, Vik Muniz ingin membantu pemulung-pemulung yang kurang beruntung tersebut. Karya tersebut merupakan karya kolaborasi antara Vik Muniz dengan beberapa pemulung yang dianggap punya kisah menarik. Ketika dipamerkan di Inggris, karya tersebut terjual dengan harga yang cukup tinggi lewat pelelangan. Hasil lelang diberikan sepenuhnya kepada organisasi pemulung sampah untuk memajukan organisasi tersebut dan kesejahteraan pemulung-pemulung di sana. Beberapa pemulung yang terlibat dalam pembuatan karya ada yang pindah dari daerah tersebut dan memulai usaha baru dari uang hasil pelelangan yang dibagikan. Tetapi beberapa masih tetap di sana dan membangun daerah tersebut.

Pada satu skena, ada pernyataan mengesankan dari Marat (ketua organisasi pemulung) bahwa pemulung ini tidak memungut sampah, mereka memungut barang yang dapat didaur ulang. Mereka membuat benda-benda yang dianggap sudah tidak bernilai lagi kembali memiliki nilai. Film ini menarik untuk ditonton karena kita banyak isu-isu tentang kemanusiaan yang disinggung dan mampu membuat kita untuk berefleksi, sudah seberapa besar kita peduli terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitar kita? (Nikolas Nino)

 

(Visited 137 times, 1 visits today)

Author: Komang Adhyatma

Share This Post On

Submit a Comment