Wawancara Singkat dengan Risa Saraswati: tentang Buku, Lagu, dan Sahabat-sahabat Hantu

Ditemui di backstage seusai perform dalam Mitos Melankolia, Minggu (5/5), Risa Saraswati, sang Sarasvati sendiri, terlihat masih bersemangat dan antusias. Duduk santai ditemani keyboardis dan drummernya, Risa menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan para jurnalis dengan gembira.

Dalam wawancara itu Risa menjelaskan tentang proses penulisan bukunya. Risa yang sejak kecil memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan makhluk-makhluk astral, menuliskan kisah-kisah yang ia dengar dari hantu-hantu yang mendatanginya dalam blog pribadi. Ternyata ada penerbit yang melirik kemampuannya dalam menulis dan menawarkan untuk menerbitkan cerita-cerita tersebut dalam sebuah buku dengan detail-detail yang lebih terperinci. Tertarik dengan proyek tersebut, Risa melakoni kegiatan menulis itu tanpa berharap banyak dari publik. “Ternyata responsnya malah melebihi ekspektasi,”katanya.

Buku tersebut ia tulis hanya dalam dua bulan. “Banyak yang heran, kok Risa bisa sih nulis, ngeband, kerja juga. Nah jadi begini, kan saya kesehariannya kerja sebagai PNS. Saya punya waktu luang yang banyak sekali.”ujarnya dengan senyum jahil ketika mengungkapkan bahwa ia menulis buku di sela-sela jam kantor.

Namun tetap saja ia merasa lebih enak mengungkapkan pesan-pesannya lewat lirik lagu. Dalam menulis blog atau buku, Risa merasa punya beban kewajiban untuk membuat orang lain benar-benar memahami apa yang ia ingin sampaikan. Sementara, menulis lirik lagu merupakan pengungkapan ekspresi pribadinya, tanpa tendensi yang harus membuat orang lain mengerti akan apa yang hendak ia sampaikan.

Risa akan meluncurkan buku ketiga yang masih diselubungi rahasia, berbarengan dengan sebuah EP di bulan November ini. “Rencananya habis puasa,”katanya. EP tersebut akan terdiri dari lima lagu berbahasa Indonesia dan masih bercerita tentang teman-teman astralnya. “Jadi nanti lagu-lagu itu bisa kalian dengarkan sambil membaca buku,”ungkapnya tentang paket rilisan yang unik itu.

Disinggung tentang inspirasi dalam menulis dan bermusik, Risa mengaku memang ingin bercerita tentang kelima sahabat hantunya: Peter, Hans, William, Hendrick, dan Janshen. Mengaku berteman dengan mereka sejak kecil, Risa mulai bertemu dengan makhluk-makhluk yang serupa mereka saat beranjak dewasa. “Tapi fisik mereka (kelima sahabat hantunya) tidak berubah dari dulu sampai sekarang. Kecil terus,”katanya. Risa memperkenalkan kelima sahabat hantunya dalam buku keduanya, Maddah. “Saya ingin ngeberesin cerita tentang mereka di buku ketiga saya.”katanya. Buku tersebut, ungkapnya, lebih menyerupai jurnal tentang kesehariannya dengan Sarasvati dan dengan makhluk-makhluk yang sering mendatanginya.

Walau lekat dengan kesan mistis, Risa mengelak ketika disinggung mengenai ritual-ritual khusus sebelum manggung. “Ritual khusus? Ada. Bedakan. Buang air besar karena saya tegang.”katanya sambil tergelak. Ia mengatakan bahwa walau ia berteman dan bahkan bersahabat dengan makhluk-makhluk tersebut, ia tidak merasa memiliki kewajiban untuk ‘memuja’ mereka. “Gak pernah bawa menyan, dupa,

atau apa pun. Biasa aja.”katanya. “Kalau tadi saya bawain “Lingsir Wengi” itu karena lagi di Jogja. Untuk gimmick aja. Kalau lagi di Bandung mungkin kita bawain “Es Lilin”.”katanya sambil tertawa.

Ketika saya tanya tentang atraksi duetnya dengan Melancholic Bitch, Risa mengatakan bahwa ia dari dulu sangat suka dengan band satu itu. Terutama, ia suka dengan lagu “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa”. Saking sukanya dengan Melancholic Bitch, ia sampai rela “nongkrongin” mereka waktu check sound siangnya. Iseng, ia minta lagu tersebut dimainkan walau Melbi sendiri sudah bertekad tidak akan membawakan lagu itu lagi. Ugo setuju memainkan lagu itu hanya jika mereka berduet. Setelah iseng mencoba waktu check sound, akhirnya mereka sepakat membawakan lagu itu malamnya ketika Melancholic Bitch tampil.

Risa juga merasa sangat senang bisa ke Jogja lagi. Ia mengungkapkan bahwa di twitter respons dari teman-teman di Jogja sangat ramai, walau Sarasvati sendiri tidak pernah promo ke kota ini. Bahkan penggemar Sarasvati di Jogja membentuk semacam fan base bernama Saras Family. “Saya pengen banget buktiin apakah temen-temen yang di twitter itu benar-benar datang atau tidak, dan ternyata responsnya sangat oke menurut saya.” ujarnya.

Risa mengakhiri sesi wawancara itu dengan mempromosikan EP dan bukunya yang akan diluncurkan November ini. “Saya gak akan bocorin (materinya), makanya beli yah.” katanya, menggelitik kita untuk selalu penasaran dengan aksi berikutnya dari perempuan unik ini. (Gis)

DSC_1131

Photo by: Komang Adhyatma

(Visited 1,957 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

1 Comment

  1. wah hebat kerjaannya banyak dan sukses di tiap bidang

Submit a Comment