YK Booking: Kelompok Kolektif Yang Mempertahankan Pertunjukan “Kelas Dua” Di Yogyakarta

10734280_402544956566349_4909041139003549086_n

Menyikapi semakin sulitnya dalam mencari venue yang murah untuk menggelar sebuah pertunjukan musik dan juga biaya sewa equipment panggung yang semakin mahal, beberapa anak muda di Yogyakarta membuat sebuah gerakan baru dengan nama YK Booking. Seperti apa bentuk aktifitas dan tujuan utama mereka? Simak interview redaksi KANALTIGAPULUH bersama dengan dua orang agen dari YK Booking berikut ini.(KA)

Menurut kalian, skena musik independen di Yogyakarta saat ini perkembangannya seperti apa?

M: Sangat berkembang, referensi gak cuma itu-itu aja, band sudah memikirkan bagaimana mendokumentasikan karyanya melalui album ataupun sekedar demo. Records label juga sudah ada beberapa yang serius mencoba merilis band-band lokal. Media dan venue yang sesuai budget itu beberapa hal yang kurang disini.

A: Skena musik independen di Yogyakarta bisa dikatakan sama dengan kota besar yang lain di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Denpasar, Medan, Malang ataupun Surabaya. Masing- masing sama-sama sedang bergerak, dan pergerakan ini dinamis. Banyak proyek  musik baru bermunculan, ibaratnya kita berkedip sedikit saja sudah ada saja lagu atau karya musik baru yang bisa kita nikmati. Fasilitas, teknologi,dan  informasi sepertinya gampang didapat dan diakses di Yogyakarta ini.

Apakah yang melatar belakangi kalian menjalankan proyek YK Booking ini?

M: Karena melihat Yogyakarta sudah menjadi semacam destinasi bagi band-band tour dalam dan luar negeri sementara yang mengorganisir gig untuk band tour tersebut masih sedikit karena terkendala harga sewa alat dan venue. gig untuk band tour ini sedikit beda dengan gig biasa. gak semua band tour tersebut mau main di gig sponsor juga hari yang dipilih gak selalu weekend sehingga masalah dana produksi jadi isu yang krusial, tak bisa mengandalkan penjualan tiket.  Kami dihadapkan pada 2 pilihan untuk tetap bisa melanjutkan gig band tour tadi: antara harus memiliki venue sendiri atau mempunyai alat sendiri. Kemudian kami memilih mempunyai alat sendiri karena melihat kenyataan bahwa diantara kami belum ada yang capable untuk mengurusi sebuah venue serta selama ini venue untuk musik jarang ada yang bisa tahan lama.

A: Latar belakangnya sederhana, di Yogyakarta sekarang ini menurut saya pribadi sudah kekurangan venue, kekurangan akan ruang terbuka yang bisa diakses siapa saja dengan mudah. Apalagi untuk acara-acara musik “kelas dua” dengan budget minim. Yogyakarta ini seperti sudah diketahui adalah salah satu tujuan bila ada tour dari band-band baik lokal maupun dari luar negeri. Yah seputar band band punk, hardcore, noise/experimental, bahkan pop juga ada. Biasanya tour mandiri makanya saya menyebutnya “event kelas dua”. Acara kecil yang kamu gak perlu bayar tiket untuk masuk dan menyaksikannya, kamu bisa berkumpul dengan kawan-kawanmu untuk bersenang-senang bersama, atau mungkin hanya sekedar bertemu dan ngobrol saja. Bayangkan saja sudah venue nya susah dan mahal, ditambah lagi untuk sewa alat yang juga hampir sama mahalnya. Lalu event event yang dianggap “kelas dua” ini mau dikemanakan? Okelah kalau venue harus disewa dengan harga yang mahal, paling tidak ada sound system yang bisa dipergunakan dengan harga yang lebih murah, untuk mereduksi biaya produksi sebuah acara.

Siapa saja orang-orang di balik YK Booking?

M: Semua organizer Yogyakarta yang mengorganisir gig untuk band tour dan organizer gig band-band independen di Yogyakarta bisa menjadi orang di balik YK Booking. kita gak mau terjebak dalam sebuah pengkultusan kelompok atau YK Booking itu hanya milik segelintir orang. Klise sih, tapi kita pengen ini menjadi sebuah isu kita bersama. Dan apapun hal yang kita dapet dari proyek ini mudah-mudahan bisa dinikmati juga oleh teman-teman di Yogyakarta.

A: Orang orang dibelakang YK Booking ini adalah dari kawan-kawan yang sebagian adalah kawan-kawan yang aktif bermain musik/band, label rekaman dan sekaligus biasa mengorganisir acara-acara “kelas dua” dan dari mereka ini sebenarnya ada kesamaan pikiran bahwa ini saatnya kita bergerak, tujuannya tidak muluk-muluk, bagaimana caranya event event yang dianggap kelas dua ini tetap bisa ada dan terlaksana, minimal bisa mereduksi biaya untuk penyelenggaraan acara.

Melihat semakin banyaknya acara berbayar seperti pensi kampus dan SMA di banding pergerakan skena independen sendiri, menurut kalian komunitas dan skena musik di Yogyakarta 5 tahun kedepan akan seperti apa?

M: Semakin variatif tentunya, masing-masing punya segmentasi penikmatnya sendiri-sendiri juga. jadi band-band independen bisa bermain dengan flexible di gig komunitas disamping itu juga bisa mendapatkan fee dengan bermain di pensi. jadi bisa menyesuaikan diri lah istilahnya.  Pensi sekarang juga sudah melirik potensi band-band independen, gak band besar itu itu saja yang diundang demi kuantitas massa. 5 tahun ke depan optimis bakal muncul band-band potensial, organizer-organizer handal, records label yang bagus manajemennya dan kalau bisa sih YK Booking-YK Booking bentuk baru dengan ide lebih segar.

A: Tidak ada masalah adanya acara berbayar, pensi dan sebagainya. Karena itu bagian dari pergerakan musik juga sebenarnya. Dan masing masing sudah memiliki segmentasi sendiri sendiri. Buat para penikmat musik semakin banyak pilihan, semakin banyak variasi. Buat pemusik juga tentunya tantangan, karena menjadi band yang populer itu gak mudah. Band yang baru ada belum tentu dia bisa main di acara acara yang ditiketkan, kalau dia gak pernah bergerilya “di bawah tanah” sebelumnya. 5 tahun yang akan datang tidak bisa diramalkan seperti apa, sekarang saja seperti saya bilang kita berkedip saja sudah ada band baru, musik yang baru. Orang bikin musik saja sekarang sudah gak perlu ke studio gede, cukup dirumah saja sudah bisa, gak perlu laptop, pake gadget pun sudah bisa bikin musik. 5 tahun lagi mungkin saja kita bersin saja sudah bisa men generate musik secara otomatis mungkin hahaha.

Sebagai gerakan kolektif, tentu orang-orang yang terlibat di dalamnya akan datang dan pergi. Bagaimana kalian menyikapi hal yang satu ini?

M: Seleksi alam itu wajar, di tiap skena ataupun komunitas pasti ada yang datang dan pergi juga mereka yang tetap stay disitu bertahan. selama masih ada yang bertahan ya jalanin aja. Namanya juga kehidupan, pasti ada up and down nya. Nah makanya regenerasi itu perlu biar api semangat itu tetap ada 🙂 

A: Kolektif, datang pergi, itu sudah kayak aturan, sudah kayak hukum tak tertulis, yang jelas saat ini saya dan kawan kawan sedang menulis sejarah. Iya sejarah buat kami sendiri, sejarah untuk pergerakan musik di Yogyakarta. Saat ini kami lakukan saja yang kami niatkan ini, suatu saat mungkin proyek ini akan berlanjut lebih besar siapa juga yang tahu, atau bahkan mungkin malah berantakan, siapa juga yang bisa menebak. Mungkin yang YK Booking lakukan ini bisa menginspirasi kota-kota yang lain.

Sistem funding yang kalian lakukan seperti apa, bisa dijelaskan?

A: Sistem funding ya seperti biasa, mencari donasi. Offline dan Online.Menggunakan media apapun asal itu bisa jadi bahan untuk mencari pendanaan. Sudah dijelaskan di website yang kita kelola di http://ykbooking.tumblr.com.

M: Sistem funding yang kami pakai adalah sebagai berikut :

  1.    Offline Act
  2.    Online Act     

Offline Act adalah sebuah kegiatan berupa penyelenggaraan acara musik dengan skala kecil dengan tujuan mengumpulkan pendanaan lewat donasi dari penonton pertunjukan. Selain dari donasi tersebut juga dimungkinkan dengan penjualan merchandise band berupa t-shirt, cd, kaset, stiker, totebag, patch dan lain sebagainya.

Sedangkan Online Act sifatnya lebih kepada publikasi lewat media internet. Dimulai dengan pembuatan website, pembuatan akun media sosial semacam facebook dan twitter. Dari kegiatan ini nantinya mengarah kepada pencarian dana lewat crowdfunding. Seperti biasa dilakukan lewat indigogo ataupun kickstarter. Website dan akun media sosial nantinya juga akan menjadi basis utama untuk update segala jenis dan bentuk kegiatan, serta menjadi media pelaporan kegiatan dan keuangan dari YK Booking nantinya.

Sempat terpikir atau tidak dengan membuat semacam pertunjukan dengan skala besar dengan mengundang musisi-musisi kelas atas dalam menjalankan fundingnya, metode seperti ini cukup sering di lakukan oleh musisi-musisi di Ibukota, seperti crowdfunding yang pernah di lakukan oleh Efek Rumah Kaca atau gerakan-gerakan massive di media sosial seperti yang saat ini sedang trend di lakukan berbagai pihak untuk melakukan funding. Sempat terpikirkan untuk melakukan hal tersebut?

M: Kebanyakan organizer di YK Booking adalah para organizer yang biasa bergerak di bidang pengorganisiran gig dengan skala kecil, dengan biaya minimal. selain itu kita melihat di Yogyakarta lebih cocok untuk mengorganisir gig kecil yang hangat dan intim serta cair. Untuk memproduksi gig skala besar tentunya butuh dana produksi yg besar pula. Sewa alat, venue   tentunya tak bisa semudah itu di diskon dengan embel-embel ini gig crowdfunding kan?  Jadi kalau kita mau bikin gig skala besar, otomatis semacam gambling juga dengan dana yang ada. Setiap kota tentunya punya karakteristik masing-masing, apa yang sukses dilakukan di Jakarta atau Bandung belum tentu bisa sukses diterapkan di Yogyakarta. Sejak awal kita melihat seperti apa skena musik Yogyakarta itu, kita Tanya-tanya juga dengan teman dari beberapa kota bahkan negara lain yang pernah atau sedang menjalankan kegiatan yang mirip seperti ini. Kita cari kekurangan dan kelebihannya lalu kita cari yang pas untuk diterapkan disini. Dari situ kami menemukan formula yang kami rasa cocok diterapkan disini.

A: Seperti saya terangkan tadi, kebanyakan acara yang sering saya dan kawan-kawan handle adalah acara acara “kelas dua”, band band tour mandiri, band yang tidak terlalu terkenal, underrated dan apapun itu istilahnya. Kalaupun ada rencana besar seperti event crowdfunding skala besar, saya secara  pribadi  berpendapat sepertinya kita belum sanggup ke arah sana. Acara kecil kecil dengan intensitas tinggi saja sudah menguras tenaga. Mungkin kalau ada dana berlebih atau donatur yang khilaf menyumbangkan duitnya untuk bikin acara gede-gedean ya boleh juga sih haha.

Tujuan utama kalian melakukan gerakan YK Booking ini apa? Melihat orang-orang yang terlibat di dalamnya kebanyakan adalah muka-muka lama di skena musik Yogyakarta

M: Kontinuitas dan regenerasi. Kita tentunya pengen apa yang sudah kita mulai ini tetap ada dan kami mencoba membuka kemudahan lain supaya generasi nantinya tertarik melakukan sesuatu untuk Yogyakarta. Bosen juga melihat orang itu-itu saja yang mengorganisir gig dan tentunya tidak selamanya kita bisa berkutat disitu, ada kalanya harus mengurusi hal lain. Jadi harus ada regenerasi!

A: Tujuan utamanya seperti tadi. Agar event event “kelas dua” ini tetap bisa berjalan dan terlaksana. Memberi variasi dan warna pada pergerakan musik di Yogyakarta. Dan yang jelas adalah mereduksi biaya penyelenggaraan acara musik dengan skala kecil. Kalau venuenya sudah susah dan mahal, kalau bisa dari sound system yang kita punyai ini bisa sedikit membantu kawan-kawan penyelenggara. 

Bisa dijelaskan juga bagaimana sistem penyewaan alat-alat musik yang sudah terkumpul?

M: Kami sepakat alat yang nanti terkumpul bisa dipakai oleh band/organizer gig di Yogyakarta tetapi lebih dipentingkan mereka yang mempunyai dana minim. Enggak gratis sih karena pemakai harus mengurusi transportasi pengangkutan alatnya serta membayar uang kas untuk perawatan dan (nantinya) upgrade alat, dan uang kas itu bisa disesuaikan dengan dana yang ada.

A: Untuk sistem penggunaanya, sebenarnya lebih ke arah pertemanan, jadi awalnya paling tidak dari lingkaran kami yang kecil dahulu. Karena alat alat ini adalah sebenarnya dikelola bersama-sama, paling tidak ada saling pengertian dalam penggunaannya dan sekaligus perawatannya. Mereduksi biaya produksi acara, misalnya saja kalau sewa alat band itu 1 juta mungkin suatu saat dari YK Booking bisa memberi harga separuhnya. kemudian dalam acara yang diselenggarakan tetap diusahakan mencari donasi di venue, untuk menambah kas sekaligus mempersiapkan untuk perawatan alat, dan nantinya upgrade.

Pertanyaan terakhir, apa harapan kalian untuk skena musik di Yogyakarta pada khususnya, dimana bisa di bilang saat ini skena musik di kota ini sedang lesu-lesu nya. 

M: Gak lesu amat sebenarnya, banyak band baru potensial yang muncul, band lama pun ada yg aktif kembali atau rilis album, tour  dan lain-lain. Konsep gig baru dan lama masih ada yang menarik juga (walk the folk, lelagu, lokaleza, yesnoklub, folk afternoon, limabelasan), records label profesional juga mulai muncul.  

Harapan kami simple, skena musik yogyakarta tetaplah nyaman dan cair untuk semua kalangan. kalau bisa saling bekerjasama kenapa harus berkompetisi?

A:  Lesu ? ah tidak juga, Yogyakarta ini kota yang dinamis kok, mungkin pas kita tidak sempat menyaksikan acara-acara atau membeli rekaman rekaman yang ada. Kalau mau dituruti, tidak habis lho seminggu menikmati Yogyakarta, hampir tiap hari ada acara-acara musik, dari yang besar maupun yang kecil. Yang dipublikasikan di media sosial ataupun yang bawah tanah. Acara reguler malah lebih banyak lagi. Belum lagi yang di kampus-kampus. Rekaman-rekaman juga banyak dan lebih massive lagi. Band band pop, folk, akustik, punk, hardcore, grind core, death metal banyak yang melepas rilisannya tanpa kita ketahui. Jadi kalau dibilang Yogyakarta sepi mungkin tidak beralasan. 

Harapannya sih nanti sesudah proyek sound system  ini akan berlanjut ke proyek venue. Iya kita beli tanah dan bangun gedung pertunjukan. Daripada dibangun hotel.

 

(Visited 500 times, 1 visits today)

Author: Komang Adhyatma

Share This Post On

Submit a Comment