Zoo Menggelar Prasasti Tour di Kota Malang

Senja masih prematur ketika saya memutuskan untuk bersemedi di rooftop Houtenhand hari Jumat (8/2) kemarin. Warna oranye bersemburat dari balik gedung-gedung tinggi di sekitar Houtenhand sementara kuping saya mulai beradaptasi dengan kebisingan yang absurd di lantai dua, rupanya checksound untuk tour album Prasasti oleh Zoo sedang berlangsung. Tak sabar rasanya melihat performa band yang baru saja kembali dari rehat tiga tahunnya ini.

Maka ketika langit sudah seutuhnya gulita dan nada-nada bernafaskan british rock mulai mencuat, saya pun menandaskan green latte favorit dan bergabung dengan kerumunan penikmat musik kota Malang di lantai dua. Secara resmi, tour album Zoo – Prasasti dibuka oleh band Young Savages yang terhitung masih satu dua kali tampil di lantai gigs. Sebagai band baru, saya cukup terkesan karena massa yang ikut berdendang pada coveran lagu Star Sailor tidaklah sedikit jumlahnya. Demikian halnya dengan Take This Life yang kemudian menguasai panggung dengan lagu dari album kompilasi Splak Blak! Muta Karak. Dibuka dengan gebukan drum oleh Julius yang merangkap vokal, kemudian dilanjutkan dengan pattern berisik yang matematis. Chaotic dan mathcore yang bergema di venue minimalis, disambut baik oleh audience yang didominasi oleh musisi-musisi lokal kota Malang. As always, gigs isnt only a gigs but also a moment of reunion.

Setelah dihantam dengan raung-raungan yang mendobrak gendang telinga, kemudian Crimson Diary hadir menawarkan atmosfer yang berbeda. Mungkin ini konspirasi, sengaja memberi jeda pada audience untuk amunisi distorsi selanjutnya. Maka ketika Lara Maybe Berpijak dan Senja dimainkan secara berurutan, saya menyenderkan punggung sejenak, hembuskan nafas, enyahkan penat dan dirasuki lelah. Tapi oh cmon! Malam masih panjang, jendral!

Akhirnya yang dinanti pun tiba, empat cah Yogyakarta beranjak menuju panggung lengkap dengan alat tempur mereka. Sementara Dimas sibuk menyiapkan perangkat, MC mengajak Rully sang vokalis merangkap penulis lagu berbincang tentang album Prasasti yang memuat 11 lagu berkomposisi dan 11 lagu improvisasi. Kemudian Houtenhand mendadak runtuh, berganti goa-goa zaman megalitikum. Segenap matematis core dibalut unsur tribalisme disajikan medley nyaris tanpa jeda oleh Rully cs. Meski tak paham prononsasinya, namun saya bisa merasakan atom-atom ritual yang magis dan pecah dalam setiap raungan Rully. Sakti! Hymne Peradaban, Manusia Baru, Tanah Ibu dan segelintir track pamungkas lainnya menghentak galak. Sayang sekali kualitas sound kurang memadai malam ini, namun vokal Rully yg serampangan tetap merampok atensi audience. Perpaduan gendang, console, drum, sesekali nada-nada synthesizer yang meliuk serta vokal berat dan padat khas Rully sukses menyisakan gemuruh yang bergema di gendang telinga hingga acara usai.

Bukan Zoo namanya bila menghadirkan gebrakan yang biasa, maka album Prasasti semakin memantapkan gelar band indie jenius yang melekat. Prasasti hadir dalam kemasan batu granit keabuan seberat 1,7 kg lengkap dengan logam stainless stell pada sampulnya. Album ini hanya dicetak 200 copy, sehingga menjadi benda wajib dimiliki untuk para kolektor CD. Namun bagi yang ingin menikmati kualitas soundnya saja, bisa mengunduh gratis di Yes No Wave.

 

(Visited 61 times, 1 visits today)

Author: Redaksi

Share This Post On

Submit a Comment